Kelompok tersebut memiliki bantalan keuangan yang kuat sehingga tidak terlalu terdampak oleh kenaikan biaya hidup maupun tekanan inflasi.
Mereka tetap aktif membelanjakan uang untuk properti premium, kendaraan mewah, maupun aset bernilai tinggi karena masih percaya pada prospek ekonomi jangka panjang.
"Mereka melihat indikator makroekonomi Indonesia masih cukup kokoh dan pada saat yang sama mendapatkan manfaat dari kenaikan nilai aset investasi yang dimiliki," katanya.
Karena itu, Rahma menyebut fenomena konsumsi saat ini sebagai sebuah paradoks ekonomi. Di satu sisi, pertumbuhan konsumsi dan penjualan ritel terlihat positif dari perspektif makroekonomi.
Namun di sisi lain, bagi sebagian kelas pekerja, tingginya konsumsi justru mencerminkan kekhawatiran terhadap masa depan.
Menurut Rahma, dalam kondisi tersebut membelanjakan uang hari ini dianggap lebih rasional dibandingkan menyimpannya untuk tujuan jangka panjang yang dinilai semakin sulit dicapai.
>>> FAO Prediksi Produksi Gula Dunia Surplus pada Musim 2025/2026
"Di tengah ketidakpastian yang tinggi, banyak orang merasa menikmati hasil kerja hari ini lebih masuk akal daripada menginvestasikannya untuk masa depan yang kian buram," kata Rahma.