⌂ Beranda News Mati Listrik Mengancam Charger Mobil Listrik, Begini Efeknya Menurut Ahli ITB

Mati Listrik Mengancam Charger Mobil Listrik, Begini Efeknya Menurut Ahli ITB

Mati Listrik Mengancam Charger Mobil Listrik, Begini Efeknya Menurut Ahli ITB
Pengemudi taksi online mengisi daya mobil listrik di SPKLU
A A Ukuran Teks16px

Populasi kendaraan listrik di Indonesia terus bertambah seiring banyaknya pilihan model di pasar. Namun, pertumbuhan ini belum sepenuhnya diimbangi dengan infrastruktur pendukung yang merata, terutama stabilitas pasokan listrik.

Belakangan, isu pemadaman listrik oleh PLN terjadi di beberapa wilayah. Hal ini menjadi perhatian khusus bagi pemilik mobil listrik yang mengandalkan pengisian daya di rumah.

>>> Maroko Kalahkan Skotlandia 1-0 di Laga Perdana Piala Dunia 2026

Peneliti Senior Pusat Sistem Transportasi Berkelanjutan ITB, Agus Purwadi, menjelaskan bahwa sistem pengisian daya mobil listrik modern sudah dirancang dengan keamanan ketat.

Komponen pengisian diatur secara digital oleh Battery Management System (BMS).

"Jika menggunakan charging AC, charger-nya bawaan mobil dan terintegrasi dengan BMS. Jadi BMS akan mengatur charger.

Namun, jika tegangan tidak stabil dan terlalu lebar, tentu berdampak," ujar Agus.

Batas Toleransi Tegangan yang Ketat

Meski BMS memiliki proteksi canggih, komponen elektrikal mobil listrik tidak kebal terhadap fluktuasi arus. Masalah utama saat listrik sering mati-nyala adalah ketidakstabilan tegangan, seperti voltage surge atau drop.

Setiap pabrikan menanamkan ambang batas aman pada perangkat pengisian daya. Jika fluktuasi melebihi batas, sistem otomatis memutus arus atau menurunkan kinerja demi melindungi sel baterai.

>>> Miguel Almiron Cetak Sejarah: Kartu Merah Perdana Akibat Menutup Mulut

"Charger punya range tegangan dengan toleransi misalnya plus minus 10%. Jika di atas itu, performanya terganggu," kata Agus.

Tiga Aspek Kontrol Pengisian Daya

Masyarakat tidak perlu panik bahwa charger akan langsung rusak saat listrik padam. Di dalam perangkat terdapat algoritma pintar yang menyesuaikan diri dengan kondisi arus melalui beberapa mode proteksi.

"Mode charging ada beberapa tipe: power constant, current constant, dan voltage constant. Ketiga aspek kontrol itu pasti ada di charger," ujar Agus.

Ketiga kontrol tersebut menjaga proses pengisian tetap aman.

Power constant menjaga daya stabil, current constant menjaga arus konsisten, dan voltage constant memastikan tegangan aman bagi baterai.

Meski teknologi ini meminimalisasi risiko korsleting, Agus mengingatkan bahwa performa pengisian tetap akan dikorbankan jika kualitas listrik tidak stabil.

>>> BP MPR RI Kaji Kedaulatan Rakyat dalam Demokrasi Pancasila

"Mereka punya toleransi. Jika toleransi terlalu lebar, pasti berpengaruh terhadap performance charging," pungkasnya.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru