>>> Trump Klaim Militer Iran Lumpuh Akibat Perang, Bantah Kritik Demokrat
Sudirman menambahkan bahwa pengeluaran operasional tambang untuk jenis kalori medium secara umum sudah melewati level SR di atas angka 7.
Konsekuensi dari tingginya level SR membuat realisasi pengeluaran korporasi telah menyamai atau bahkan melampaui angka 35 dolar AS per ton.
Kondisi riil tersebut dinilai memicu hilangnya ruang keuntungan atau margin bagi sejumlah emiten maupun korporasi pertambangan hulu.
Sejumlah pelaku usaha bahkan dihadapkan pada risiko kerugian finansial jika diwajibkan terus menyuplai kebutuhan PLN memakai formula yang lama.
Sudirman berpendapat batasan tarif 70 dolar AS per ton relatif tidak lagi mencerminkan nilai keekonomian industri pertambangan pada periode sekarang.
Apalagi, nominal DMO tersebut mencatatkan selisih yang terlampau jauh dari pergerakan harga pasar global yang menyentuh 125 dolar AS hingga 130 dolar AS per ton.
"Menurut kami sebaiknya memang jangan terpaut jauh dengan harga batubara di pasar global.
Selain untuk dapat menutupi biaya operasional tambang yang sudah cukup tinggi saat ini, juga dapat berdampak positif untuk mengoptimalkan konservasi cadangan batubara," ungkap Sudirman saat dihubungi Kontan.
co. id, Jumat 19 Juni 2026.
Ketua Indonesian Mining and Energy Forum Singgih Widagdo turut memberikan poin perhatian yang senada terkait dinamika bisnis komoditas ini.
Singgih menilai kebijakan harga saat ini memaksa mayoritas entitas bisnis beroperasi dengan perolehan keuntungan yang sangat tipis.
Bahkan, terdapat indikasi bahwa beberapa perusahaan terpaksa melepas komoditas mereka ke pasar domestik di bawah standar nilai produksi.
Singgih mengingatkan adanya dampak negatif jangka panjang apabila angka patokan DMO diposisikan terlalu rendah dari nilai wajar.
Para pelaku usaha berpotensi hanya mengejar target wilayah dengan stripping ratio rendah demi efisiensi biaya jangka pendek.
Langkah taktis korporasi tersebut berisiko mengurangi volume cadangan jangka panjang serta mengganggu rasio produktivitas batu bara pada level nasional.
Singgih menekankan bahwa formulasi kebijakan DMO memegang peranan krusial terhadap model tata kelola cadangan energi strategis nasional.