Menurut Risdianto, perubahan tersebut bukan sekadar tantangan, tetapi juga peluang besar bagi Indonesia untuk membangun industri satelit nasional yang lebih mandiri.
Indonesia memiliki pasar besar dan kebutuhan konektivitas tinggi sebagai negara kepulauan.
"Satelit menjadi fondasi konektivitas, memastikan tidak ada satu pun anak bangsa yang tertinggal dari arus digital," ujarnya.
Pembangunan industri satelit tidak bisa hanya mengandalkan operator satelit. Diperlukan kolaborasi antara pemerintah, industri, akademisi, dan lembaga riset agar Indonesia mampu memanfaatkan peluang ekonomi antariksa.
ASSI menyatakan siap menjadi mitra strategis pemerintah dalam membangun ekosistem satelit nasional.
Risdianto mengatakan ASSI mendorong lahirnya peta biru persatelitan nasional sebagai acuan pengembangan industri satelit Indonesia jangka panjang.
Selain memperkuat industri dalam negeri, ASSI juga ingin mendorong lahirnya lebih banyak talenta muda yang mampu bersaing di sektor antariksa.
"Harapan kami, Indonesia dapat tumbuh menjadi pemain kunci yang mandiri dengan ekosistem industri satelit nasional yang matang dari hulu hingga hilir," kata Risdianto.
>>> ARIKSA Desak Indonesia Segera Miliki Kebijakan Antariksa 2045
Menurutnya, momentum peringatan 50 tahun Satelit Indonesia tidak hanya menjadi ajang mengenang keberhasilan Satelit Palapa, tetapi juga pengingat bahwa industri satelit dunia berubah cepat dan Indonesia memiliki kesempatan mengambil peran lebih besar melalui kolaborasi, inovasi, dan penguatan industri dalam negeri.
