"Sering orang membandingkan speed dengan harga, padahal itu tidak selalu fair. Yang penting adalah melihat berapa kecepatan nyata yang diterima masyarakat sesuai layanan yang mereka pilih," kata Marwan.
Marwan menambahkan, kondisi jaringan di berbagai negara juga tidak selalu merata.
Kualitas internet di kawasan rural atau pinggiran kota di banyak negara sering kali lebih rendah dibandingkan wilayah perkotaan, namun kondisi tersebut jarang menjadi bagian dari perbandingan internasional.
"Di Eropa pun saya lihat di daerah suburban atau rural kualitas internetnya juga tidak selalu bagus. Tetapi yang sering dibandingkan hanya daerah perkotaannya saja.
Karena itu metodologi pengambilan data menjadi sangat penting, apakah menggunakan Ookla, Opensignal, atau lembaga pengukuran lainnya," kata Marwan.
Sebelumnya, Komdigi menargetkan layanan internet dengan kecepatan hingga 100 Mbps dapat dinikmati masyarakat dalam dua tahun ke depan.
>>> Haaland Bela Bellingham: Tak Pantas Dikritik Berlebihan
Target tersebut didukung melalui lelang pita frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz yang akan menambah kapasitas spektrum komersial nasional, sehingga operator memiliki ruang lebih besar untuk meningkatkan kualitas dan kapasitas layanan internet.
