Salah satu temuan utama penelitian ini adalah risiko arc flash pada sistem 800 VDC tetap dapat dikelola, bahkan pada skenario terberat yang melibatkan kapasitor.
Dalam banyak kondisi, tingkat risikonya disebut sebanding dengan sistem distribusi listrik AC yang saat ini digunakan di berbagai data center.
Schneider Electric juga menemukan bahwa penggunaan perangkat lunak simulasi dan teknologi digital twin memungkinkan pemodelan risiko yang lebih akurat dibanding metode konvensional yang cenderung memperkirakan risiko secara berlebihan.
Penelitian mengevaluasi dua pendekatan distribusi daya 800 VDC.
Pada arsitektur tingkat rak (power rack), energi arc flash tercatat jauh di bawah ambang batas penggunaan alat pelindung diri (PPE), bahkan tanpa perangkat proteksi tambahan.
Sementara pada arsitektur terpusat di tingkat fasilitas, potensi energi insiden memang sedikit lebih tinggi, tetapi masih dapat ditekan hingga level yang aman dengan penggunaan sistem proteksi standar.
Studi ini menyoroti tiga faktor utama yang menentukan keamanan implementasi 800 VDC: karakteristik transien saat gangguan terjadi, penggunaan simulasi untuk meningkatkan akurasi analisis, serta pemilihan desain sistem seperti penempatan kapasitor dan perangkat pencegah arus balik.
Schneider Electric berharap hasil studi ini dapat membantu industri beralih menuju arsitektur daya 800 VDC secara lebih aman seiring meningkatnya kebutuhan komputasi AI dan pembangunan data center berkapasitas tinggi.
>>> Bezos dan DiCaprio Sumbang Rp 3,5 T untuk Selamatkan 100 Spesies Terancam Punah
Perusahaan juga telah melakukan pengujian kemampuan live swap pada sistem 800 VDC guna mendukung proses pemeliharaan yang aman.
