Pasar kripto global mengalami tekanan besar menyusul ketegangan militer terbaru antara Amerika Serikat dan Iran di dekat Selat Hormuz pada Rabu (10/6/2026).
Konflik bersenjata ini memicu aksi saling balas serangan yang langsung berdampak negatif pada pergerakan harga aset-aset digital utama.
>>> Harga Emas Dunia 11 Juni 2026 Melonjak Akibat Serangan AS ke Iran
Fluktuasi harga mata uang digital ini dipengaruhi secara signifikan oleh kebijakan Presiden Donald Trump di Timur Tengah.
Berdasarkan laporan Barron's pada Rabu (10/6/2026) sebagaimana dilansir dari Money, harga sejumlah aset kripto terbesar mencatatkan penurunan nilai yang cukup tajam dalam kurun waktu 24 jam.
Bitcoin diperdagangkan pada 73.214 dollar AS (sekitar Rp 1,31 miliar kurs Rp 17.944) di awal hari, turun lebih dari 3 persen dalam 24 jam terakhir.
Mata uang kripto terbesar di dunia ini telah jatuh 16 persen sejak awal tahun.
Ethereum, kripto terbesar kedua, turun 4,4 persen menjadi 1.985 dollar AS (Rp 35,6 juta) sementara altcoin populer XRP dan Solana masing-masing turun 3,3 persen dan 3,9 persen.
Kondisi pasar kian diperparah oleh lonjakan inflasi dan potensi kenaikan suku bunga Federal Reserve yang tidak menguntungkan pertumbuhan kripto.
Direktur senior di perusahaan perdagangan kripto Wincent, Paul Howard, menjelaskan bahwa perkembangan geopolitik global memiliki pengaruh yang sangat masif terhadap pergerakan instrumen ini.
"Dalam kondisi seperti ini, perkembangan geopolitik memiliki kemampuan yang sangat besar untuk mendorong posisi pengambilan risiko dan penghindaran risiko," jelas Paul Howard, Rabu.
Pelemahan sentimen di pasar kripto sendiri tercatat sudah berlangsung sejak Oktober tahun lalu.
>>> Kemenkes Apresiasi Capaian Tertinggi Program Cek Kesehatan Gratis di Jawa Tengah
Hal tersebut mengakibatkan para investor cenderung bersikap pasif dan enggan memperbanyak kepemilikan portofolio mereka dalam situasi likuiditas yang rendah.
