Peneliti menemukan spesies monyet baru di Republik Demokratik Kongo dengan ciri khas bibir berwarna oranye dan suara auman yang menggelegar.
Spesies tersebut diberi nama ilmiah Colobus congoensis. Warga setempat menyebutnya 'Likweli'.
>>> Piala Dunia 2026: Barcelona Punya Pahlawan Final, Real Madrid Raja Daftar Gol
Ini adalah spesies monyet baru kelima di Afrika yang berhasil diidentifikasi ilmuwan dalam 75 tahun terakhir.
Ciri Fisik dan Genetik
Monyet ini memiliki bulu hitam mengkilap, bulu panjang, ekor panjang, serta corak wajah oranye dan krem yang mencolok.
Peneliti dari Florida Atlantic University dan City University of New York Graduate Center menyebutkan bahwa tengkorak, gigi, dan kerangkanya khas, berbeda dari spesies monyet colobus Afrika lainnya.
Bobotnya sekitar 6,8 kilogram, lebih kecil dibandingkan monyet Colobus lainnya.
Kerabat terdekatnya adalah Colobus satanas yang ditemukan lebih dari 1.200 kilometer di Afrika bagian barat-tengah.
>>> Final Piala Dunia 2026: Rekor Emi Martinez yang Sia-sia
Bukti genetik menunjukkan kedua spesies berpisah sekitar 4 hingga 5 juta tahun lalu.
"Penemuan Colobus congoensis mengubah pemahaman kita tentang evolusi monyet Afrika," ujar Kate Dewiler, penulis studi dan profesor ilmu biologi dari Florida Atlantic University, dikutip dari CNN, Senin (20/7/2026).
Proses Identifikasi
Proses identifikasi dimulai pada 2008 ketika monyet tidak biasa dipotret oleh peneliti di Republik Demokratik Kongo. Sepuluh tahun kemudian, observasi lebih jelas dilakukan.
Peneliti melakukan 114 pengamatan dari 2018 hingga 2022, mempelajari genetika, dan menggunakan pengetahuan ekologi lokal untuk memastikan spesies baru ini.
Status Konservasi
Peneliti mengusulkan Colobus congoensis diklasifikasikan sebagai spesies terancam punah karena wilayah sebaran terbatas sekitar 1.700 kilometer persegi, hilangnya habitat, dan tekanan perburuan.
>>> Pria 21 Tahun Curi Kripto Ratusan Ribu Dolar Lewat Malware di Game
"Sebagian besar habitatnya berada di dalam Taman Nasional Lomami, sehingga perlindungan wilayah tersebut sangat penting untuk kelangsungan hidup spesies ini," kata peneliti dari City University of New York Graduate Center.
