Smart glasses dengan kamera seperti Ray-Ban Meta semakin populer di kalangan kreator konten.
Perangkat ini memungkinkan pengguna merekam video dari sudut pandang orang pertama (POV) secara praktis tanpa harus memegang ponsel atau kamera.
>>> Wales Tegas Tolak Dukung Infantino untuk Presiden FIFA 2027-2031
Namun, kemudahan tersebut juga memunculkan perdebatan soal privasi.
Belakangan, media sosial diramaikan oleh kasus seorang kreator konten Indonesia yang merekam seorang usher di pameran otomotif GIIAS 2026 menggunakan smart glasses tanpa persetujuan.
Rekaman itu kemudian diunggah dengan narasi 'cara deketin cewek' dan memicu kritik luas dari warganet karena dinilai melanggar etika serta privasi orang yang direkam.
Kasus tersebut menjadi pengingat bahwa kecanggihan teknologi harus diimbangi dengan tanggung jawab penggunanya.
Tech reviewer Wasa Wirman menilai smart glasses pada dasarnya bukan perangkat yang dirancang untuk merekam orang secara diam-diam, melainkan untuk mendokumentasikan aktivitas pengguna dari sudut pandang mereka sendiri.
"Kalau ngomongin Ray-Ban Meta, sebenarnya kameranya nggak benar-benar tersembunyi.
Dari depan masih kelihatan dua bulatan kamera di dekat engsel, dan saat merekam juga ada lampu LED sebagai indikator," ujarnya kepada detikINET.
Menurutnya, keberadaan lampu indikator tersebut memang dirancang agar orang di sekitar mengetahui saat kamera sedang aktif, sehingga membantu menjaga privasi.
Smart Glasses Cocok untuk Konten POV
Wasa menilai keunggulan utama smart glasses bukan untuk merekam orang lain, melainkan menghasilkan konten POV yang lebih natural.
Perangkat ini cocok digunakan saat traveling, berjalan kaki, mengendarai sepeda, hingga membuat video unboxing atau review produk.
Pengguna tidak perlu lagi membawa tripod, bracket ponsel, atau kamera mirrorless hanya untuk mengambil rekaman singkat.
"Yang paling beda tentu perspektifnya.
Penonton bisa melihat persis apa yang dilihat kreatornya, jadi terasa lebih natural dibanding pakai HP atau action camera," katanya.
