Asap kebakaran hutan dan lahan tidak selalu menetap di sekitar lokasi api. Begitu masuk ke atmosfer, partikel asap dapat terbawa pergerakan udara.
Wilayah yang terdampak kabut asap belum tentu berada dekat dengan sumber kebakaran. Fenomena ini pernah diteliti secara spesifik di Bengkayang, Kalimantan Barat.
>>> Cole Palmer Bersinar Lagi di Fulham Vs Chelsea Berkat Xabi Alonso
Penelitian yang diterbitkan di Jurnal Teknologi Lingkungan Badan Riset dan Inovasi Nasional pada 2023 mengkaji potensi penyebaran PM10 akibat kebakaran hutan.
Faktor Angin dan Kondisi Atmosfer
Salah satu faktor utama yang menentukan pergerakan asap adalah angin. Asap membawa berbagai partikel pencemar, termasuk PM10, yang mengikuti arah pergerakan massa udara.
Kecepatan angin turut menentukan seberapa cepat asap berpindah. Sementara itu, kondisi atmosfer memengaruhi seberapa luas asap menyebar.
Dalam penelitian di Bengkayang, tim peneliti menggunakan model AERMOD untuk memprediksi penyebaran PM10. Data tersebut berdasarkan hotspot dan kondisi meteorologi.
>>> Klasemen Liga Italia Terkini: AS Roma Duduki Urutan Pertama
Hasil pemodelan menggunakan data meteorologi 2020 menunjukkan sebaran asap bergerak mengikuti arah selatan menuju barat. Jarak sebaran terdekat bahkan mencapai sekitar 3,08 kilometer dari lokasi objek penelitian.
Pada kebakaran yang lebih besar, asap dapat bergerak lebih jauh lagi. Kebakaran menghasilkan panas yang mendorong udara panas dan material hasil pembakaran naik ke atmosfer.
Jika asap mencapai lapisan udara dengan aliran angin kuat, material tersebut terbawa ke wilayah yang jauh. Selain angin, ketinggian plume asap dan kelembapan juga ikut menentukan arah pergerakan.
>>> Fakta di balik foto terkenal hasil editan dan manipulasi masa lampau
Pemantauan karhutla dinilai tidak cukup hanya dengan melihat jumlah dan lokasi hotspot. Kondisi meteorologi perlu diperhitungkan untuk memperkirakan pergerakan polutan.