⌂ Beranda News Kembalinya Konsep Developmental State dalam Arsitektur Ekonomi Indonesia

Kembalinya Konsep Developmental State dalam Arsitektur Ekonomi Indonesia

Kembalinya Konsep Developmental State dalam Arsitektur Ekonomi Indonesia
Ilustrasi konsep developmental state dalam ekonomi Indonesia
A A Ukuran Teks16px

IHSG dan Harga dari Ketidakpastian

Jika rupiah berbicara tentang kepercayaan, maka IHSG berbicara tentang masa depan. Bursa saham selalu bergerak berdasarkan ekspektasi.

Ia tidak hanya memotret hari ini, tetapi juga mendiskon apa yang diyakini akan terjadi besok.

Karena itu, ketika IHSG tertekan, yang sedang dinilai bukan hanya laporan keuangan emiten, melainkan juga mutu lingkungan kebijakan tempat mereka tumbuh.

Dalam konteks Indonesia saat ini, tekanan pada bursa memperlihatkan bahwa pasar sedang memberi harga pada ketidakpastian.

Investor tidak menolak pembangunan. Mereka juga tidak otomatis alergi terhadap negara yang aktif.

Namun, mereka akan meminta kompensasi lebih tinggi bila melihat arah kebijakan yang belum cukup jelas, tata kelola yang belum cukup transparan, atau perubahan institusional yang terlalu cepat tanpa komunikasi meyakinkan.

Dalam situasi seperti itu, saham-saham Indonesia menjadi murah bukan karena ekonomi kehilangan potensi, melainkan karena masa depannya sedang didiskon oleh keraguan.

Itulah sebabnya IHSG harus dibaca lebih dari sekadar papan merah.

Ia adalah sinyal bahwa developmental state Indonesia sedang diuji oleh logika pasar.

Bila negara ingin menjadi pengarah pembangunan, maka ia harus mampu menunjukkan bahwa intervensinya meningkatkan produktivitas, bukan memperbesar rente; memperjelas arah, bukan mengaburkan aturan; memperkuat institusi, bukan menumpuk kewenangan tanpa pagar pengawasan.

Pada akhirnya, persoalannya bukan apakah Indonesia perlu menjadi developmental state. Dalam banyak hal, justru itulah jalan yang masuk akal bagi negara sebesar Indonesia.

Persoalannya adalah kualitas dari negara pembangunan itu sendiri.

Rupiah dan bursa sedang mengingatkan bahwa pasar tidak anti-negara. Pasar hanya menuntut satu hal yang mendasar: jangan minta kepercayaan dibayar dengan ketidakpastian.

>>> Tim Peneliti Temukan Pedang Langit, Pohon Tertinggi di Asia Timur

Sebab negara yang ingin memimpin pembangunan harus terlebih dahulu mampu memimpin keyakinan.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru