Hubungan kedua negara sempat merenggang karena Korea Utara lebih memprioritaskan kerja sama militer dengan Rusia.
Sebagai imbalan, Korea Utara menerima pasokan minyak, makanan, dan bantuan teknologi militer dari Moskow.
"Korea Utara tidak bisa hanya bergantung pada Rusia. Mereka tetap perlu menjalin keselarasan dengan China," kata Kwak.
Fokus pada Stabilitas, Bukan Denuklirisasi
Dalam pertemuan ini, Xi Jinping diprediksi tidak akan menekan Kim Jong Un terkait denuklirisasi. Pemimpin China tersebut diperkirakan hanya akan menekankan pentingnya menjaga stabilitas keamanan di Semenanjung Korea.
Profesor hubungan internasional dari DePaul University, Minseon Ku, menilai Beijing tampaknya telah menerima status Korea Utara sebagai negara berkekuatan nuklir.
Fokus utama China saat ini adalah mencegah gejolak di kawasan tersebut.
"Xi Jinping kemungkinan besar akan menyampaikan kepada Kim Jong Un bahwa China lebih mengutamakan stabilitas daripada apa pun," ujarnya.
Ketergantungan ekonomi Korea Utara terhadap China sangat tinggi, mencakup 95% dari total perdagangan dan 85% dari nilai ekspor.
Nilai impor legal Korea Utara pada 2024 tercatat hanya USD 2,33 miliar, didominasi pasokan komoditas vital seperti minyak bumi, makanan, dan mesin dari China.
Sementara itu, nilai ekspor legal Korea Utara pada 2024 hanya sekitar USD 360 juta.
Produk rambut palsu dan wig menjadi komoditas ekspor utama yang menyumbang 40% pendapatan, memanfaatkan tenaga kerja murah untuk menyiasati sanksi ekspor mineral.
Meskipun perdagangan legal kecil, Korea Utara meraup devisa besar lewat ekonomi bayangan. Pengiriman puluhan ribu pekerja ke Rusia dan China menghasilkan USD 500 juta per tahun.
Ribuan profesional TI yang menggunakan identitas palsu sebagai freelancer internasional menyumbang sekitar USD 800 juta pada 2024.
Sektor siber Korea Utara juga agresif dengan mencuri kripto senilai USD 2,02 miliar tahun lalu.
>>> Kembalinya Konsep Developmental State dalam Arsitektur Ekonomi Indonesia
Sumber pendapatan terbesar negara tersebut saat ini berasal dari pasokan jutaan peluru artileri dan rudal ke Rusia yang bernilai antara USD 7 miliar hingga USD 13,8 miliar sejak 2023.