⌂ Beranda News Rupiah dan IHSG Melonjak Kompak, Optimisme Pasar Menguat

Rupiah dan IHSG Melonjak Kompak, Optimisme Pasar Menguat

Rupiah dan IHSG Melonjak Kompak, Optimisme Pasar Menguat
Grafik IHSG anjlok
A A Ukuran Teks16px

Setelah itu, dana diperkirakan mengalir ke pasar saham guna membangun pemulihan likuiditas serta sentimen positif di bursa efek.

Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Ahmad Faris Mu’tashim, berpandangan bahwa peluang bagi modal asing untuk masuk terhitung cukup lebar.

>>> 8 Pemain Manchester City yang Berpotensi Hengkang Musim Panas Ini

Proses masuknya dana tersebut diyakini akan mengikuti tahapan siklus likuiditas dan tidak bergulir secara instan.

Menurut analisisnya, pasar obligasi menjadi instrumen utama yang merespons perubahan suku bunga secara cepat.

Ketika BI Rate dikerek naik, tingkat imbal hasil atau yield obligasi pemerintah bakal ikut terkerek sehingga daya tariknya meningkat dibanding periode sebelumnya.

“Potensinya sangat terbuka, tapi alurnya akan bertahap melalui siklus likuiditas.

Keputusan BI menaikkan suku bunga ini instrumen pertama yang akan langsung merespons dan menarik dana asing adalah pasar obligasi, karena yield yang ditawarkan jadi jauh lebih kompetitif,” ujar Faris saat dihubungi Kompas.

com, Selasa (9/6/2023).

Kebijakan peningkatan BI Rate sebesar 75 basis poin sepanjang tahun 2023 dipandang memberi efek bagi penilaian harga saham di BEI.

Berdasarkan kalkulasi keuangan, lonjakan suku bunga ini otomatis memicu proses revaluasi karena investor menyelaraskan ulang proyeksi nilai wajar saham.

“Secara matematis, kenaikan suku bunga sebesar 75 bps (basis poin) dalam waktu yang relatif singkat ini pasti akan memicu terjadinya revaluasi di pasar,” imbuhnya.

Kondisi ini terjadi lantaran suku bunga yang tinggi mengerek tingkat diskonto (discount rate) dalam kalkulasi valuasi.

Saat tingkat diskonto melonjak, nilai saat ini (present value) dari proyeksi arus kas serta laba emiten di masa depan akan menyusut.

Hal tersebut memicu saham yang mulanya dianggap murah berubah menjadi lebih mahal sehingga pasar perlu melakukan koreksi harga.

“Suku bunga yang lebih tinggi otomatis menaikkan tingkat diskonto dalam perhitungan wajar saham, yang efeknya bisa membuat valuasi saham di BEI cenderung menyusut atau terlihat lebih ketat,” lanjut dia.

Situasi ini berdampak pada ruang pertumbuhan harga saham yang menjadi lebih sempit jika dibandingkan saat rezim suku bunga rendah.

Faktor ini memaksa para pemodal untuk bersikap lebih rigid dalam memilah portofolio saham mereka.

Arah investasi pasar diprediksi bergeser menuju perusahaan dengan sokongan fundamental kokoh, kondisi arus kas yang bugar, serta rasio utang yang berada pada level aman.

>>> Harga BBM BP Naik per 10 Juni 2026, BP 92 dan BP Ultimate Melonjak

“Kondisi ini akan membuat investor menjadi jauh lebih selektif dalam memilih saham, di mana mereka akan lebih menghindari emiten yang sensitif terhadap beban bunga tinggi,” kata dia.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru