⌂ Beranda News AS dan China Bersaing Cari Sumber Air di Kutub Selatan Bulan

AS dan China Bersaing Cari Sumber Air di Kutub Selatan Bulan

AS dan China Bersaing Cari Sumber Air di Kutub Selatan Bulan
Ilustrasi kutub selatan Bulan dengan kawah gelap yang diduga mengandung es air
A A Ukuran Teks16px

Persaingan antara Amerika Serikat dan China kini merambah ke luar angkasa. Kedua negara adidaya itu berlomba menemukan sumber air di Bulan.

NASA melalui program Artemis berencana mengirim astronaut ke kutub selatan Bulan pada 2028. Sementara itu, China menyiapkan misi Chang'e-7 yang dijadwalkan meluncur pada 2026.

>>> Harga BBM Nonsubsidi Pertamina dan Swasta Naik Serentak per 10 Juni 2026

Kutub selatan Bulan menjadi target utama karena memiliki kawah gelap yang diduga menyimpan es air. Keberadaan air di sana dianggap sebagai sumber daya paling berharga di luar angkasa.

Misi Chang'e-7 dan VIPER

Misi Chang'e-7 diprediksi akan mendahului robot penjelajah VIPER milik NASA. VIPER baru dijadwalkan meluncur pada akhir 2027.

Keberhasilan misi China bisa memberikan keuntungan strategis awal. Beijing bergerak cepat setelah sukses misi Chang'e-6 yang membawa sampel dari sisi jauh Bulan.

Fokus utama ekspedisi saat ini bukan lagi membuktikan keberadaan air. Para ilmuwan sudah yakin ada es air di sana berdasarkan data teleskop dan misi sebelumnya.

Tujuan sekarang adalah memetakan titik lokasi yang paling efektif untuk dieksploitasi. Es air dapat diubah menjadi air minum, oksigen, dan hidrogen untuk bahan bakar roket.

Inovasi ini akan memangkas biaya logistik misi antariksa. Astronot tidak perlu membawa air dari Bumi jika ada pasokan lokal.

Ketersediaan air menjadi penentu utama pembangunan koloni manusia jangka panjang di Bulan. NASA sendiri berambisi mendirikan pangkalan permanen di masa depan.

>>> Jakpro Gandeng Feel Good Network untuk Optimalkan Ekonomi JIS

Badan antariksa AS itu juga merancang reaktor nuklir khusus sebagai pemasok energi di permukaan Bulan.

Wahana Chang'e-7 akan dilengkapi instrumen ilmiah mutakhir. Termasuk kamera pemetaan resolusi tinggi, sensor inframerah, dan kamera hyperspectral.

Perangkat tersebut bertugas menganalisis material kawah gelap di kutub selatan. Seismograf juga dipasang untuk memantau gempa Bulan, serta kamera topografi untuk memindai medan.

Kawah Shackleton disebut sebagai kandidat kuat lokasi pendaratan China. Wilayah itu dinilai paling potensial menyimpan es, meski China belum mengumumkan secara resmi.

Kelebihan Chang'e-7 adalah fleksibilitas bergerak untuk memburu sinar Matahari. Karena kutub selatan dominan gelap, robot bertenaga surya ini bisa berpindah tempat untuk mendapatkan energi.

Setelah mencapai titik target, Chang'e-7 akan mengebor tanah untuk menguji sampel es air.

>>> KPK Tangkap Lima ASN BPK Terkait Suap Bupati Muara Enim

Proses pendaratan membutuhkan akurasi tinggi hingga radius 100 meter di medan yang ekstrem dan berbatu.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru