Pesan semacam itu akan memiliki kepentingan khusus bagi Hizbullah, milisi Irak, dan anggota jaringan regional Iran lainnya yang dikenal sebagai "Poros Perlawanan".
Kredibilitas pengaruh Iran selalu bertumpu sebagian pada keyakinan bahwa Iran akan berdiri di belakang mitranya.
Ketika Iran tidak bereaksi terhadap serangan Israel pada sekutu Iran, maka itu akan merusak kredibilitas Iran dalam "Poros Perlawanan".
Dilihat dari sudut pandang ini, serangan itu tidak hanya ditujukan pada Israel, melainkan sekutu Israel dan Amerika Serikat yang selama ini melihat tindak tanduk Iran.
Pada waktu yang berdekatan, Presiden AS Donald Trump baru-baru ini menyebut bahwa kesepakatan mungkin akan segera digapai. Iran diminta menghindari tindakan yang dapat membahayakan upaya diplomasi.
Namun, keyakinan Iran rupanya berbeda.
Para pemimpin Iran bisa menyimpulkan, dengan menunjukkan kekuatan militer yang terbatas, sebenarnya dapat memperkuat posisi Iran di meja perundingan, alih-alih melemahkannya.
Dari perspektif Iran, mengerahkan kekuatan militer bisa menjadi pengingat bahwa Iran masih memiliki pilihan untuk menentukan nasibnya sendiri.
Melancarkan serangan militer tidak selalu berarti Iran ingin perundingan gagal.
>>> PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk Bagikan Dividen Rp548,02 Miliar
Iran tampaknya telah mengambil tindakan untuk membangun preseden dan mengirim pesan politik, tetapi tidak pada skala yang akan membuat eskalasi konflik membesar.