Lonjakan inflasi sebesar 4,2 persen di Amerika Serikat memicu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) hingga tujuh persen.
Kondisi ini semakin memberatkan beban finansial masyarakat di tengah mandeknya pertumbuhan upah pekerja.
>>> Wahana Makmur Sejati Beri Diskon Skutik Honda hingga Rp1,3 Juta
Harga BBM kini menembus angka 1,18 dolar AS atau sekitar Rp21.205 per liter.
Angka ini mendekati rekor tertinggi pada tahun 2022 yang mencapai 1,30 dolar AS per liter.
Tekanan ekonomi kian terasa karena biaya tempat tinggal dan harga pangan juga merangkak naik masing-masing sebesar 0,3 persen.
Sementara itu, upah warga pada Mei 2026 hanya meningkat 0,1 persen.
Protes dan Respons Pemerintah
Ketidakseimbangan faktor ekonomi ini memicu gelombang protes dari masyarakat. Kebijakan suku bunga acuan The Fed juga belum menunjukkan tanda-tanda akan diturunkan dalam waktu dekat.
Menanggapi situasi tersebut, Presiden Donald Trump memberikan pernyataan singkat. "Saya menyukai inflasi," ujarnya.
Di sisi lain, lembaga keuangan menyoroti dampak nyata dari pemburukan ekonomi yang menekan daya beli masyarakat. "Warga Amerika merasakan tekanan tersebut, terutama di SPBU.
>>> Tyo Nugros Dicekal ke Luar Negeri Akibat Piutang Negara Badan Usaha
Harga bensin melonjak 7 persen dibandingkan bulan lalu dan lebih dari 40 persen lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu," lapor Al Jazeera.
Heather Long, Kepala Ekonom di Navy Federal Credit Union, menambahkan bahwa fenomena ini bukan sekadar sentimen negatif.
"Ini bukan hanya perasaan buruk tentang perekonomian saat ini; ada tekanan finansial nyata, terutama pada rumah tangga kelas menengah dan berpenghasilan rendah," jelasnya.
Untuk meredam gejolak harga, pemerintah mengambil langkah taktis di Selat Hormuz guna mengamankan jalur kapal tanker minyak.
Presiden Trump memerintahkan operasi militer senyap agar kapal tanker AS bisa melintasi jalur logistik utama tersebut dan menekan inflasi domestik.
"Bagi saya itu sepadan," kata Trump usai kapal tanker AS bisa melewati Selat Hormuz. Ia meyakini langkah strategis ini akan memulihkan stabilitas harga minyak.
>>> Polisi Selidiki Unsur Kesengajaan dalam Kasus Bocah Disetrum di Kramat
"Setelah ini berakhir, Anda akan melihat harga minyak turun ke level sebelum perang. Harganya akan turun drastis," jelasnya.