⌂ Beranda News Tradisi Perang Pandan di Desa Tenganan Bali Kembali Pikat Wisatawan

Tradisi Perang Pandan di Desa Tenganan Bali Kembali Pikat Wisatawan

Tradisi Perang Pandan di Desa Tenganan Bali Kembali Pikat Wisatawan
Tradisi Perang Pandan di Desa Tenganan Bali
A A Ukuran Teks16px

Di sana, mereka menghaturkan kelapa muda atau kuud.

Setelah prosesi selesai, para remaja putra bertugas mengumpulkan daun pandan yang akan digunakan dalam pertarungan. Sementara itu, remaja putri menyiapkan boreh atau obat penawar untuk mengobati luka peserta.

Masyarakat setempat meyakini boreh tersebut berkhasiat mempercepat penyembuhan luka akibat duri pandan. Luka peserta dipercaya akan mulai mengering dalam sehari dan sembuh total setelah satu minggu.

"Dalam tradisi perang pandan akan diikuti oleh para remaja putra mulai dari anak-anak hingga dewasa.

Namun juga boleh diikuti oleh masyarakat luar Desa bahkan para wisatawan yang ingin ikut," ucap Yudiana.

Setelah ritual berakhir, seluruh peserta saling merangkul tanpa menyisakan rasa dendam. Mereka kemudian mengikuti tradisi megibung atau makan bersama sebagai simbol kebersamaan.

Yudiana menambahkan bahwa tahun ini merupakan kali kelima tradisi perang pandan disinkronkan dengan Tenganan Pegringsingan Culture Festival. Langkah ini diharapkan dapat memperluas pengenalan desa adat tersebut.

Melalui festival, pengunjung tidak hanya menyaksikan perang pandan, tetapi juga menikmati sajian kuliner dan hiburan yang disiapkan panitia.

>>> Noni Madueke Gagal Manfaatkan Peluang Emas Saat Inggris Tekuk Kosta Rika

"Ini tahun kelima tradisi perang pandan disinkronkan dengan festival. Semoga ini bisa lebih mengenalkan Desa Tenganan Pegringsingan secara lebih luas," harap Yudiana.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru