Menteri Pertahanan Inggris John Healey mengundurkan diri pada Kamis (11/6) waktu setempat. Pengunduran ini dipicu perselisihan anggaran militer yang berlangsung berbulan-bulan dengan Perdana Menteri Keir Starmer.
Healey menuduh Starmer gagal mengalokasikan dana yang cukup untuk menjaga keamanan negara.
>>> Timnas Indonesia Naik 10 Peringkat ke Posisi 118 Ranking FIFA
Krisis ini muncul di tengah kesulitan pemerintah meningkatkan anggaran pertahanan akibat keterbatasan dana dan lonjakan anggaran kesejahteraan.
Sebelum mundur, Healey sempat membahas pemenuhan anggaran militer tambahan bersama Starmer dan Menteri Keuangan Rachel Reeves. Pembahasan itu berujung pada penundaan Rencana Investasi Pertahanan Inggris.
"Anda tidak mampu, dan Kementerian Keuangan tidak bersedia, mengalokasikan sumber daya yang dibutuhkan negara untuk mempertahankan negara ini," tulis Healey dalam surat pengunduran dirinya kepada Starmer.
Starmer merespons dengan surat balasan yang menyatakan penyesalan atas keputusan Healey. Perdana Menteri kemudian menunjuk Menteri Keamanan Dan Jarvis sebagai Menteri Pertahanan yang baru.
Menteri Angkatan Bersenjata Juga Mundur
Langkah Healey segera diikuti oleh Menteri Angkatan Bersenjata Inggris Al Carns pada hari yang sama. Carns mundur hanya berselang beberapa jam setelah Healey lengser.
Carns menyatakan keputusan mundur juga dipicu konflik internal yang sama terkait kebijakan pengalokasian anggaran pertahanan.
>>> Pegadaian Resmi Jadi Pemegang Rekening KSEI, Perkuat Ekosistem Emas Digital
"Sudah jelas bagi saya bahwa perubahan yang telah saya perjuangkan tidak akan terjadi," ucap Carns dalam suratnya.
Menurut Carns, rencana anggaran militer saat ini tidak dirancang untuk menghadapi ancaman nyata di dunia yang semakin berbahaya.
Militer Inggris dipaksa beroperasi tanpa dukungan sumber daya yang memadai, sementara dinamika konflik berkembang sangat cepat.
"Karakter konflik berubah lebih cepat daripada kemampuan pengadaan kita untuk mengimbanginya," kata Carns. Ia memperingatkan bahwa rencana anggaran saat ini tidak cukup transformatif dan tidak didanai secara memadai.
Rentetan pengunduran diri dua pejabat tinggi pertahanan ini menjadi pukulan terbaru bagi pemerintahan Starmer.
>>> FIFA Siapkan Teknologi AI untuk Deteksi Offside di Piala Dunia 2026
Kondisi ini diprediksi akan memicu tantangan besar terhadap kepemimpinan Perdana Menteri Inggris dalam beberapa bulan ke depan.