Perekonomian Inggris mengalami kontraksi sebesar 0,1 persen pada April 2026. Penurunan ini merupakan yang pertama sejak Agustus 2025.
Penyebab utama kontraksi adalah dampak perang antara Amerika Serikat dan Iran. Konflik tersebut memicu lonjakan biaya operasional perusahaan di Inggris.
>>> FIFA Bantah Tuduhan Rekayasa Jumlah Penonton Piala Dunia 2026
Harga minyak mentah dunia melonjak tajam setelah Selat Hormuz diblokade. Minyak mentah Brent sempat menembus US$ 120 per barel.
Kenaikan harga minyak langsung mendorong harga bensin dan solar di Inggris. Tagihan energi rumah tangga diperkirakan terus naik seiring kenaikan batas harga energi pada Juli mendatang.
Tekanan pada Konsumen dan Bisnis
Kepala ekonom KPMG UK, Yael Selfin, mengatakan kontraksi bulan April menunjukkan rapuhnya perekonomian Inggris. Tekanan pada konsumen dan bisnis kemungkinan akan berlanjut dalam beberapa bulan ke depan.
>>> Prabowo Dorong Ekonomi Berkeadilan Lewat Infrastruktur untuk Semua
Selfin menambahkan bahwa konsumen bersiap menghadapi kenaikan tagihan energi. Mereka pun cenderung mengurangi pembelian dan menambah tabungan, yang membebani aktivitas ekonomi.
Permintaan domestik yang lesu membatasi kemampuan perusahaan untuk meneruskan biaya lebih tinggi kepada konsumen. Hal ini kemungkinan menekan margin keuntungan.
>>> Mengenali Perilaku Pasif-Agresif: Lima Ciri Utama yang Merusak Hubungan
Meski demikian, sejumlah ekonom memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Inggris akan kembali kuat setelah fase pelemahan. Bank of England diperkirakan akan mempertahankan suku bunga saat ini.