"Prosesnya kurang lebih tiga hari terus saya bikin konten dan upload di Instagram. Selama proses pembuatan mural tersebut menggunakan full spray pakai pilok.
Menghabiskan 20 spray untuk warna kulit dan background," tutur Rayhan.
>>> Peran Perempuan Dorong Ekonomi Restoratif di NTT Dinilai Penting
Tantangan fisik dan teknis harus dihadapi demi gradasi warna yang sempurna.
"Untuk kesulitan tentu pasti ada ya dari setiap gambar punya kesulitan-kesulitan tertentu, dari yang blok warna, shadow warna untuk menghasilkan gradasi yang halus, belum lagi media yang cukup besar harus naik turun tangga, dan semua ini full saya gambar sendirian," imbuhnya.
Mural bertema sepak bola ini berbeda dari karakter karya Rayhan yang selama ini lebih banyak bermain pada pola abstrak dengan warna cerah.
"Dari aktivitas mural saya sebelumnya itu sering menggambar pattern-pattern kaya abstrak yang berpola, dengan warna warna ciri khas aku, itu ada pink, biru, ungu, dan lain-lain.
Sekarang gimana caranya menyatukan kedua itu, pattern dan realist," ujarnya.
Eksperimen tersebut menjadi tantangan tersendiri sekaligus membuka kemungkinan baru. Selanjutnya ia memiliki rencana lebih besar menjadikan Piala Dunia sebagai pergerakan dalam seni jalanan.
"Mendukung negara-negara besar seperti, Brasil, Argentina, Portugal, dan lain-lain. Apalagi Piala Dunia 2026 ini Messi, Neymar, Cristiano Ronaldo tahun terakhirnya.
Jadi goals-nya saya rencana suatu saat nanti akan menggambar mereka semua yang tahun ini adalah tahun terakhirnya," kata Rayhan.
Proyek idealis berskala besar ini dijalankan secara mandiri dengan pendanaan pribadi. "Sebenarnya ini adalah movement yang nguras dompet.
Pure, bahan aku keluarin dari dompet sendiri," sambungnya.
Rayhan menyimpan harapan besar bagi perkembangan seni mural di Indonesia, khususnya bertema sepak bola.
"Agar karya-karya ini tidak hanya hadir saat euforia turnamen besar seperti Piala Dunia, tetapi juga menjadi bagian dari budaya visual yang hidup di masyarakat," ucapnya.
Dukungan penyediaan fasilitas publik secara resmi diharapkan bisa mengubah persepsi negatif terhadap seni jalanan.
"Semakin banyak ruang legal yang diberikan kepada para muralis untuk berkarya, sehingga tembok-tembok kosong bisa berubah menjadi media edukasi, inspirasi, dan kebanggaan warga," imbuhnya.
Mural dan graffiti bisa lepas dari stigma negatif jika dikelola dengan baik. "Seni jalanan justru mampu menghidupkan lingkungan, menarik perhatian publik, bahkan mendukung sektor pariwisata kreatif.
>>> Polisi Tangkap Pelaku Ekshibisionisme yang Resahkan Warga Ciputat
Apalagi jika dikaitkan dengan sepak bola, yang memiliki basis penggemar sangat besar di Indonesia," pungkas Rayhan.