⌂ Beranda News Risiko Investasi Indonesia Meningkat, CDS Tembus 93,25 bps

Risiko Investasi Indonesia Meningkat, CDS Tembus 93,25 bps

Risiko Investasi Indonesia Meningkat, CDS Tembus 93,25 bps
Grafik risiko investasi Indonesia meningkat
A A Ukuran Teks16px

Namun, investor asing masih menunggu kepastian tekanan terhadap rupiah, risiko kebijakan, dan ketidakpastian fiskal benar-benar mereda.

“Instrumen yang paling menarik dalam kondisi saat ini adalah instrumen pasar uang, deposito rupiah yang aman, SRBI, dan SBN tenor pendek,” ucap Josua.

Menurut Josua, instrumen tersebut menawarkan imbal hasil relatif menarik dengan risiko harga lebih rendah.

Bagi investor dengan profil risiko lebih tinggi, akumulasi bertahap pada SBN tenor menengah dan saham berfundamental kuat dapat menjadi pilihan.

Saham yang dapat dicermati antara lain emiten dengan arus kas kuat, utang valas rendah, pendapatan berbasis dollar AS, atau bergerak di sektor yang diuntungkan oleh ekspor dan komoditas.

Namun, Josua menekankan pembelian sebaiknya dilakukan secara bertahap dan tidak sekaligus.

Strategi Defensif Tanpa Panik

Josua mengatakan, sejumlah faktor global akan memengaruhi risiko investasi Indonesia ke depan.

Faktor itu meliputi arah suku bunga Amerika Serikat, pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS, harga minyak dunia, ketegangan geopolitik di Timur Tengah, arus modal asing, cadangan devisa, neraca perdagangan, hingga pergerakan rupiah.

Dari sisi domestik, perhatian investor akan tertuju pada disiplin pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), kebutuhan penerbitan SBN, kebijakan Bank Indonesia, kejelasan aturan devisa hasil ekspor, tata kelola Danantara, potensi perubahan prospek peringkat utang, serta komunikasi pemerintah kepada pelaku pasar.

“Jika faktor-faktor ini membaik, CDS bisa turun dan aset Indonesia kembali menarik. Jika memburuk, premi risiko akan naik lagi,” imbuh Josua.

Josua menilai investor sebaiknya tetap defensif, tetapi tidak panik menghadapi kondisi pasar saat ini.

Menjual seluruh aset Indonesia ketika harga telah terkoreksi dalam bukan keputusan yang tepat.

Namun, meningkatkan eksposur risiko secara agresif juga belum disarankan.

“Strategi yang lebih seimbang adalah menjaga likuiditas, memperbesar porsi instrumen jangka pendek, melakukan pembelian bertahap, dan memastikan portofolio tidak terlalu terkonsentrasi pada satu aset atau satu mata uang,” terang dia.

Untuk investor konservatif, porsi investasi lebih besar disarankan ditempatkan pada pasar uang, deposito, dan SBN tenor pendek.

Investor moderat dapat mulai masuk secara bertahap ke SBN tenor menengah dan saham pilihan.

Sementara itu, investor agresif dapat memanfaatkan koreksi pasar untuk mengoleksi saham berkualitas tinggi dengan tetap menerapkan batas risiko yang jelas.

Bagi investor yang memiliki kebutuhan pembayaran dalam dollar AS, seperti biaya pendidikan, impor, atau transaksi luar negeri, kepemilikan sebagian aset dalam mata uang asing juga dinilai penting sebagai instrumen lindung nilai.

Budi Frensidy juga mengingatkan investor agar tidak mengambil keputusan berdasarkan emosi.

“Diversifikasi menjadi semakin penting, baik antar instrumen maupun mata uang,” ucap Budi.

Ia menyarankan investor tetap menjaga likuiditas.

Namun, koreksi pasar dapat dimanfaatkan sebagai momentum akumulasi bertahap pada aset berkualitas.

Investor konservatif dapat meningkatkan porsi pasar uang dan obligasi jangka pendek.

>>> Mahasiswa UBK Demo di Medan Merdeka Selatan, Pengendara Diimbau Pilih Jalur Alternatif

Investor jangka panjang dapat mulai mempertimbangkan pembelian bertahap pada saham maupun obligasi yang sudah memiliki valuasi menarik.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru