⌂ Beranda News Pakar ITB Jelaskan Dua Penyebab Utama Pemadaman Listrik Jawa dan Bali

Pakar ITB Jelaskan Dua Penyebab Utama Pemadaman Listrik Jawa dan Bali

Pakar ITB Jelaskan Dua Penyebab Utama Pemadaman Listrik Jawa dan Bali
Ilustrasi pemadaman listrik bergilir di perkotaan
A A Ukuran Teks16px

Masyarakat di Pulau Jawa dan Bali belakangan ini kerap mengeluhkan pemadaman listrik bergilir. Fenomena ini memicu pertanyaan mengenai penyebab terhentinya pasokan daya tersebut.

Pakar tenaga listrik Institut Teknologi Bandung (ITB), Dr Ir Kevin Marojahan Banjar Nahor, menjelaskan situasi ini dapat dipicu oleh dua faktor utama.

>>> Kejagung Serahkan Rp1 Triliun PNBP, Termasuk Aset Buron Eddy Tansil

Gangguan Mendadak dan Pengurangan Kapasitas

Faktor pertama dinamakan force outage, yaitu gangguan mendadak yang berada di luar perencanaan operasional.

Sementara faktor kedua dikenal sebagai derating, yakni pengurangan kapasitas produksi listrik yang dilakukan dengan sengaja oleh pihak operator.

Menurut Kevin, salah satu pemicu derating adalah langkah taktis guna mengamankan ketersediaan cadangan bahan bakar.

Saat ini, persediaan batu bara maupun minyak sebagai bahan baku operasional pembangkit listrik sedang mengalami penyusutan.

Guna mengantisipasi habisnya pasokan energi secara total, pihak operator memilih menurunkan daya operasi pembangkit hingga menyisakan sekitar 60 persen dari kapasitas maksimal.

Kevin menerangkan bahwa jika pembangkit dipaksakan bekerja penuh di tengah menipisnya bahan bakar, dampaknya akan sangat fatal bagi sistem kelistrikan.

Berdasarkan teori operasi sistem tenaga listrik, setiap jaringan wajib menyimpan cadangan daya guna mengantisipasi kendala tak terduga.

>>> Sudaryono Klarifikasi Kericuhan Diskusi Mahasiswa di UGM Yogyakarta

Pemadaman bergilir terpaksa dipilih saat beban puncak demi mengurangi tekanan sistem dan mencegah pemadaman total.

Ancaman Fenomena Cuaca Ekstrem

Tantangan bagi sektor kelistrikan nasional kian berat seiring munculnya fenomena cuaca ekstrem El Nino yang diprediksi membawa musim kemarau panjang.

Situasi ini menekan sistem dari sisi hulu dan hilir, yakni melonjaknya permintaan sekaligus merosotnya pasokan.

Suhu udara yang menyengat memicu masyarakat meningkatkan pemakaian alat pendingin ruangan. Di sisi lain, minimnya curah hujan membuat volume air di sejumlah bendungan pembangkit menyusut drastis.

Penyusutan ini mengancam kapasitas produksi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) besar, termasuk PLTA Cirata dan Saguling di Jawa Barat yang menjadi pilar pasokan listrik Jawa-Bali.

Terkait pemadaman yang sempat melanda wilayah Bali pada 12 Juni 2026 lalu, pihak PLN menjelaskan tindakan tersebut diambil demi meningkatkan keandalan sistem jangka panjang.

Pemerintah melalui Kementerian ESDM bersama PT PLN berkomitmen untuk mempercepat proses pemulihan jaringan kelistrikan.

>>> Saling Balas Pernyataan PSI dan PDIP Soal Status Politik Jokowi

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memastikan tata kelola stok batu bara saat ini jauh lebih siap agar krisis pasokan seperti pada tahun 2022 tidak terulang lagi.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru