⌂ Beranda News Psikolog Ingatkan Bahaya Stres Kronis Ganggu Stabilitas Jiwa

Psikolog Ingatkan Bahaya Stres Kronis Ganggu Stabilitas Jiwa

Psikolog Ingatkan Bahaya Stres Kronis Ganggu Stabilitas Jiwa
Psikolog mengingatkan bahaya stres kronis yang mengganggu stabilitas jiwa
A A Ukuran Teks16px

Kalangan usia produktif kini rentan mengalami stres kronis akibat tingginya tuntutan pekerjaan serta dinamika kehidupan sehari-hari.

Jika menumpuk, kondisi ini dapat mengganggu stabilitas jiwa hingga memicu reaksi tidak wajar.

>>> Bhabinkamtibmas Rokan Hulu Evakuasi Ibu Hamil Korban Kecelakaan Tunggal

Gejala penumpukan tekanan psikologis ini sering tidak disadari penderitanya, meskipun telah memengaruhi pikiran, perasaan, dan perilaku dalam menghadapi masalah sehari-hari.

Kenali Tanda-tanda Stres Kronis

Kondisi emosional yang meledak akibat pemicu kecil menjadi salah satu tanda nyata.

"Kok kayaknya situasi stresnya sebenarnya kecil, tapi reaksi emosi yang kita rasakan kok besar ya," ujar Daniar Dhara Fainsya, M.

Psi. , Psikolog.

Selain luapan emosi pada masalah sepele, indikasi lain adalah hilangnya sensitivitas perasaan ketika dihadapkan pada persoalan besar. "Tekanannya sebenarnya besar, tapi kok kita enggak bisa merasakan emosinya ya?"

Secara kognitif, penderita cenderung terjebak dalam pola pikir buruk yang berulang, menghentikan produktivitas tindakan nyata.

"Kok kita selalu terus-menerus mengulang pikiran-pikiran yang mengarah ke hal-hal yang negatif, yang justru membuat kita jadi enggak produktif secara perilaku," jelas Daniar.

Langkah Penanganan dan Bantuan Profesional

Langkah penanganan awal dapat dilakukan melalui regulasi emosi untuk menurunkan intensitas perasaan negatif sebelum beralih ke strategi penyelesaian masalah.

"Itu (emosi) disadari dulu, kita kasih nama dulu, kemudian kita lihat, apa sebenarnya pesan yang ingin disampaikan dari stres yang datang?"

papar Daniar.

>>> Donald Trump Kritik Serangan Israel di Lebanon, Soroti Korban Sipil

Evaluasi mandiri yang tidak kunjung membuahkan hasil menjadi indikasi kuat untuk segera melibatkan bantuan profesional.

"Sudah dicoba dikelola dengan sendiri tapi rasanya masih sulit, dan pada akhirnya ya enggak apa-apa banget untuk mencari bantuan profesional," imbau dr. Rayhan Maditra Indrayanto, Sp.

KJ, psikiater.

Metode reframing, yang berfokus pada pengubahan sudut pandang tanpa memaksakan sikap positif, juga dapat diterapkan.

"Ini adalah bagaimana kita memandang suatu masalah dengan sudut pandang berbeda," terang dr. Rayhan.

Manajemen waktu dan pengorganisasian jadwal harian yang terstruktur juga menjadi bentuk tindakan aplikatif dalam meminimalkan tekanan mental.

"Misalnya manajemen waktu kita, atau bagaimana kita mencoba mereorganisasi hari kita supaya lebih terstruktur," sambung dr. Rayhan.

Penanganan kesehatan mental yang optimal melibatkan kolaborasi antara psikolog dan psikiater.

Rujukan ke psikiater menjadi wajib jika ditemukan indikasi fatalitas, seperti pikiran untuk menyakiti diri, mengakhiri hidup, atau menyakiti orang lain.

>>> Prancis Hadapi Senegal di Laga Perdana Grup I Kualifikasi Piala Dunia 2026

Melalui rujukan, psikiater akan memeriksa urgensi pemberian obat penenang serta mengedukasi pasien dan pendamping secara transparan mengenai khasiat, cara kerja, hingga estimasi waktu pemulihan.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru