⌂ Beranda News Pasar Modal RI Terancam Kehilangan Dana Asing Rp 230 Triliun

Pasar Modal RI Terancam Kehilangan Dana Asing Rp 230 Triliun

Pasar Modal RI Terancam Kehilangan Dana Asing Rp 230 Triliun
Ilustrasi pasar modal Indonesia tertekan
A A Ukuran Teks16px

Sementara skenario terburuknya adalah penurunan status ke pasar frontier yang akan membuat posisi pasar modal Indonesia sejajar dengan Bangladesh.

Investment Specialist KISI Sekuritas, Ahmad Faris Mu’tashim, berpendapat bahwa MSCI Market Accessibility Review merupakan agenda yang paling memengaruhi gerak IHSG.

>>> Kiper Tanjung Verde Vozinha Viral, Pengikut Instagram Tembus 10,8 Juta

Faktor utama penyebabnya adalah besarnya nilai dana kelolaan global, terutama dana pasif, yang menjadikan indeks tersebut sebagai acuan investasi.

"Jika kita lihat dari sisi dana kelolaan, MSCI menjadi yang signifikan dengan estimasi AUM 250 miliar dolar AS hanya dari passive fund," ucap Faris saat dihubungi Kompas.

com, Senin (15/6/2026).

Di sisi lain, indeks FTSE dinilai tidak memiliki dampak yang terlalu besar terhadap pergerakan arus dana di bursa saham domestik.

Hal itu disebabkan oleh minimnya institusi global dengan eksposur Indonesia yang menggunakan indeks FTSE sebagai landasan investasi utama mereka.

"Untuk FTSE tidak terlalu banyak institusi dengan eksposur Indonesia yang menggunakan benchmark index-nya, sehingga dari segi flow tidak signifikan," ucapnya.

Dampak Potensial Terhadap IHSG

Apabila hasil tinjauan akses pasar dari MSCI nanti mengecewakan, IHSG diproyeksikan berisiko mengalami koreksi lanjutan menuju level 5.300.

Meski demikian, Faris menilai sebagian besar dari risiko penurunan tersebut sebenarnya sudah mulai diantisipasi oleh para pelaku pasar sejak pekan lalu.

"Kita akan proyeksikan IHSG kembali ke area 5.300, namun kami mengestimasikan potensi tersebut sudah di faktorkan pada pergerakan minggu lalu," tutur dia.

Faris menambahkan bahwa jika penurunan status ke kategori pasar frontier benar-benar terjadi, nilai arus modal keluar dari bursa domestik bisa melonjak tajam.

"Jika pasar turun ke frontier, kami mengestimasikan outflow sebesar Rp 200 triliun," lanjut Faris.

Efek dari penilaian indeks global ini dipastikan tidak hanya memukul sentimen investor asing tetapi juga akan berdampak pada investor lokal.

Banyak manajer investasi di dalam negeri menggunakan indeks MSCI dan FTSE sebagai landasan untuk produk reksadana indeks mereka.

Oleh karena itu, perubahan bobot atau status yang negatif bakal memicu aksi jual masif dari manajer investasi lokal secara otomatis dalam waktu singkat.

>>> IHSG Dibuka Menguat 1,31% ke Level 6.321,96 pada 16 Juni 2026

"Indeks ini tidak hanya sebagai benchmark modal asing dengan eksposur Indonesia, namun beberapa reksadana lokal juga menggunakan ini sebagai produk untuk klien mereka, sehingga outflow yang datang tidak hanya dari foreign, namun MI (manajemen investasi) lokal yang memiliki produk reksadana indeks terkait, sehingga penting untuk diperhatikan, karena dananya bersifat passive fund," beber Faris.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru