Ketidakpastian posisi Indonesia dalam peta investasi global memicu perhatian pada kriteria evaluasi teknis MSCI.
Nafan menjelaskan, MSCI mengawasi ketat standar regulasi transaksi, porsi saham publik, dan struktur kepemilikan emiten.
Peluang Indonesia mendapat peningkatan penilaian pada review 18 Juni masih terbatas. "MSCI masih menerapkan pendekatan wait and see," papar Nafan.
Investment Specialist KISI Sekuritas, Ahmad Faris Mu’tashim, mengungkapkan dana kelolaan pasif yang mengacu pada MSCI mencapai estimasi 250 juta dolar AS.
Sementara FTSE tidak terlalu signifikan karena sedikit institusi dengan eksposur Indonesia yang menggunakannya.
Faris memproyeksikan IHSG berpotensi kembali ke area 5.300 jika hasil keputusan tidak sesuai ekspektasi. Namun, risiko tersebut sudah difaktorkan pada pergerakan minggu lalu.
Direktur Ekonomi CELIOS, Nailul Huda, menilai penurunan kasta saham Indonesia ke frontier market bukan hal mustahil. "Dampaknya cukup besar, investor akan berbondong-bondong menarik uang dari saham Indonesia," ujarnya.
Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyoroti ketidakpastian reformasi pasar modal. "Ketakutan MSCI menurunkan rating ke frontier market membuat investor asing keluar semua," ucapnya.
Namun, pengamat pasar modal Reydi Octa menilai peluang penurunan status masih kecil. "Active fund akan tetap melihat valuasi, prospek ekonomi, dan fundamental emiten Indonesia," katanya.
>>> Kiper Tanjung Verde Vozinha Viral, Pengikut Instagram Tembus 10,8 Juta
Rangkaian evaluasi pasar modal Indonesia oleh institusi global berlangsung bertahap: MSCI Market Accessibility Review pada 18 Juni, rebalancing FTSE pada 19 Juni, dan MSCI Market Classification Review pada 23 Juni 2026.