⌂ Beranda News Frugal Living di Kalangan Kelas Menengah: Strategi Bertahan atau Tren Gaya Hidup?

Frugal Living di Kalangan Kelas Menengah: Strategi Bertahan atau Tren Gaya Hidup?

Frugal Living di Kalangan Kelas Menengah: Strategi Bertahan atau Tren Gaya Hidup?
Ilustrasi gaya hidup hemat kelas menengah Indonesia
A A Ukuran Teks16px

Ketiga, tingginya beban utang rumah tangga. Data Mandiri Institute menunjukkan mayoritas kelas menengah memiliki cicilan atau kewajiban pembayaran rutin.

Keempat, perubahan struktur ekonomi yang belum menciptakan lapangan kerja berkualitas memadai.

Dalam kondisi tersebut, frugal living semakin populer, terutama di kalangan generasi muda dan keluarga kelas menengah.

>>> Ahmad Riza Patria Bantah Terlibat Kasus Korupsi Makan Bergizi Gratis

Media sosial dipenuhi konten tentang cara hidup hemat, mulai dari membawa bekal hingga membeli barang bekas.

Secara teoritis, perilaku ini rasional. Ketika pendapatan riil menurun atau ketidakpastian meningkat, rumah tangga cenderung meningkatkan tabungan dan mengurangi konsumsi.

Menariknya, frugal living kini berkembang menjadi identitas sosial baru. Hidup sederhana mulai dipandang sebagai bentuk kecerdasan finansial, bukan lagi simbol kegagalan.

Namun, perlu dibedakan antara frugal living sebagai pilihan sadar dan sebagai respons terhadap tekanan ekonomi. Jika dilakukan karena pendapatan tidak mampu memenuhi kebutuhan, itu menjadi sinyal masalah struktural.

Salah satu ciri kelas menengah adalah kemampuan konsumsi diskresioner, seperti membeli gadget, berwisata, atau makan di restoran. Ketika tekanan ekonomi meningkat, prioritas berubah: pengeluaran hiburan dipangkas lebih dulu.

Banyak rumah tangga beralih dari konsumsi berbasis keinginan menjadi konsumsi berbasis kebutuhan. Minat terhadap produk diskon, merek ekonomis, dan pasar barang bekas meningkat.

Secara psikologis, masyarakat beralih dari mode konsumsi ke mode bertahan. Fokus utama bukan lagi meningkatkan kualitas hidup melalui konsumsi, melainkan menjaga stabilitas keuangan.

Frugal living yang meluas membawa konsekuensi bagi perekonomian.

Jika dilakukan masif oleh jutaan keluarga, konsumsi melemah, sektor ritel turun, industri makanan kehilangan pelanggan, pariwisata melambat, dan penciptaan lapangan kerja terhambat.

Para analis menilai menyusutnya kelas menengah dapat mengancam prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia. Fenomena frugal living bisa menjadi indikator awal daya beli masyarakat tertekan.

Pemerintah perlu membaca fenomena ini dengan hati-hati. Jangan sampai frugal living dianggap sekadar tren gaya hidup, padahal mencerminkan kecemasan ekonomi yang lebih dalam.

Mengatasi tekanan pada kelas menengah membutuhkan pendekatan komprehensif. Pertama, menciptakan lapangan kerja berkualitas dengan upah memadai.

Kedua, meningkatkan kualitas pendidikan dan keterampilan.

Ketiga, menjaga stabilitas harga kebutuhan dasar. Keempat, memperluas akses pembiayaan produktif.

Kelima, memperkuat sistem perlindungan sosial yang adaptif.

Fenomena frugal living tidak boleh dipandang sekadar tren media sosial.

>>> Kakorlantas Polri Targetkan Zero ODOL pada 2027 Demi Keselamatan Jalan

Di balik konten hidup hemat, terdapat cerita tentang perubahan kondisi ekonomi kelas menengah yang perlu mendapat perhatian serius.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru