Sistem otonom ini diklaim mampu melindungi puluhan personel militer dari risiko bahaya langsung. "Dulu, kapal yang dilengkapi sonar harus melintasi langsung area yang dicurigai terdapat ranjau," ujar Andreas.
Penggunaan drone meningkatkan efisiensi kerja angkatan laut, meski pembersihan total wilayah laut pascaperang membutuhkan waktu puluhan tahun.
"Sistem otonom berarti 40 nyawa itu tidak lagi harus menghadapi risiko secara langsung," kata Andreas.
Kendala operasional drone di wilayah sensitif seperti Selat Hormuz adalah jangkauan persenjataan Iran. "Anda harus selalu berada cukup dekat," jelas Andreas.
Perusahaan Euroatlas di Bremen mengembangkan drone Greyshark bertenaga baterai untuk mengatasi keterbatasan baterai. Drone ini dijadwalkan diproduksi massal pada September 2026.
"Kapal-kapal di Selat Hormuz berisiko terkena tembakan dari daratan," katanya. Teknologi pengintaian bawah air dengan drone dianggap sebagai solusi aman tanpa memperkeruh situasi politik.
"Pengintaian bawah air dengan drone masih mungkin dilakukan, tanpa risiko dan tanpa memperkeruh situasi," ujar Markus Beer, kepala penjualan kendaraan bawah air otonom di Euroatlas.
Drone Greyshark diklaim memiliki jangkauan lebih luas serta mampu menghasilkan gambar beresolusi tinggi secara mandiri. "Drone kecil yang saat ini digunakan hanya mampu bertahan beberapa jam," jelas Beer.
>>> Ahmad Riza Patria Bantah Terlibat Kasus Korupsi Makan Bergizi Gratis
Ia menekankan kemampuan jelajah instrumen ini yang jauh lebih tinggi dibandingkan model drone kecil saat ini. "Drone Greyshark dapat menempuh jarak yang jauh lebih jauh," pungkas Beer.