Para ahli memperkirakan proses pembersihan ranjau dapat memakan waktu mulai dari satu bulan hingga enam bulan.
>>> Intel Siapkan Project Firefly demi Saingi MacBook Neo
Sekretaris Jenderal Organisasi Maritim Internasional (IMO), Arsenio Dominguez, menilai pembersihan jalur pelayaran menjadi syarat utama sebelum aktivitas pelayaran dapat kembali normal.
Inggris dan Prancis bahkan telah mengirim kapal militer ke kawasan tersebut guna mendukung operasi pencarian dan pembersihan ranjau.
Ketidakpastian Soal Biaya dan Aturan Pelayaran
Faktor ketiga adalah belum jelasnya aturan baru yang akan diterapkan setelah Selat Hormuz dibuka kembali. Sebelum konflik, kapal dapat melintas tanpa dikenakan biaya khusus.
Namun selama perang berlangsung, Iran membentuk otoritas baru yang berencana mengelola izin pelayaran di kawasan tersebut.
Media Iran melaporkan pemerintah sedang mempertimbangkan skema biaya layanan bagi kapal yang melintas di Selat Hormuz.
Meski Presiden Trump menegaskan jalur tersebut akan dibuka tanpa pungutan, hingga kini belum ada kejelasan mengenai mekanisme yang akan berlaku setelah kesepakatan damai ditandatangani secara resmi.
Ketidakpastian itu membuat perusahaan pelayaran dan operator logistik memilih menunggu aturan yang lebih jelas.
Pemulihan Diperkirakan Bertahap
Analis memperkirakan Selat Hormuz memang akan kembali dibuka dalam waktu dekat, tetapi pemulihan aktivitas pelayaran tidak akan terjadi secara instan.
Selain harus memastikan keamanan jalur pelayaran, perusahaan juga perlu memindahkan kapal-kapal yang selama berbulan-bulan tertahan di kawasan Teluk.
Karena itu, meskipun harga minyak dunia mulai turun setelah munculnya harapan perdamaian antara AS dan Iran, normalisasi pasokan energi global diperkirakan masih membutuhkan waktu beberapa minggu hingga beberapa bulan ke depan.
Harga minyak mentah dunia kembali anjlok ke bawah level 80 dolar per barel pada perdagangan hari ini, Rabu (17/6/2026).
Minyak mentah acuan AS, WTI, berada di kisaran 74,90 dolar hingga 75,60 dolar per barel, sementara minyak mentah Brent diperdagangkan sekitar 78,35 dolar per barel.
Penurunan harga ini terjadi akibat sentimen pasar terhadap ekspektasi lonjakan pasokan global, didorong oleh potensi kesepakatan damai antara AS dan Iran.
>>> KPK: Digitalisasi Pengadaan Pemerintah Masih Rawan Korupsi
Situasi ini meredakan kekhawatiran geopolitik dan membuka kembali jalur pelayaran vital di Selat Hormuz.
