Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung meminta Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menjadi mediator dalam proses perdamaian dengan Korea Utara.
Langkah ini diharapkan serupa dengan intervensi Trump yang berhasil meredakan ketegangan di Timur Tengah.
>>> Shin Tae-yong Ungkap Alasan Tolak Klub Jepang dan China Demi Persija Jakarta
Permintaan tersebut disampaikan di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi G7 di Prancis pada Rabu, 17 Juni 2026.
Kantor kepresidenan Korea Selatan mengonfirmasi adanya dialog langsung antara Lee dan Trump yang membahas perkembangan geopolitik.
Dalam pertemuan itu, Trump secara spesifik menanyakan kemajuan interaksi antara Seoul dan Pyongyang.
"Presiden Lee meminta agar ia (Trump) memimpin dalam mencapai resolusi damai untuk masalah Korea Utara, seperti halnya ia telah menyelesaikan konflik di Timur Tengah," kata kantor kepresidenan Korsel.
Pihak Seoul menyatakan bahwa Trump memberikan tanggapan positif dan berkomitmen untuk bekerja menuju resolusi masalah Korea Utara.
>>> Garmin Luncurkan Forerunner 70 dan Forerunner 170 untuk Pelari Pemula dan Menengah
Kebijakan luar negeri Lee Jae Myung dikenal lebih akomodatif terhadap Korea Utara dibandingkan pendahulunya, Yoon Suk Yeol, yang menerapkan pendekatan defensif.
Sikap Penolakan dari Pyongyang
Meskipun Seoul menawarkan ruang dialog yang lebih terbuka, Korea Utara masih menunjukkan resistensi kuat.
Pyongyang secara konsisten menolak skema pendekatan damai dari tetangga selatannya.
Secara formal, Korea Utara telah menetapkan Seoul sebagai rival utama dan menegaskan status kepemilikan senjata nuklirnya bersifat permanen.
>>> Kemenperin Wajibkan Label SNI Air Minum Kemasan Mulai Oktober 2026
Pengamat Yang Moo-jin dari Universitas Studi Korea Utara di Seoul mengatakan, "Dari perspektif Korea Utara, praktis tidak ada alasan untuk bertemu dengan Amerika Serikat."