>>> Dolar AS Menguat, Pound Tertekan Jelang Rapat The Fed
"Kami sudah memperketat kebijakan secara signifikan sebagai respons terhadap guncangan yang terjadi dibandingkan dengan ekspektasi pasar sebelumnya. Dan langkah tersebut sudah mulai memberikan dampak terhadap perekonomian," kata Bailey.
Kondisi ekonomi Inggris sendiri sedang mengalami kontraksi sebesar 0,1 persen pada April, disertai proyeksi tingkat pengangguran dari Confederation of British Industry yang berpotensi menyentuh 5,5 persen.
Meskipun Bailey memilih opsi untuk menunggu perkembangan situasi, perpecahan suara terjadi di dalam internal Komite Kebijakan Moneter BoE.
Anggota komite Megan Greene menjadi salah satu pejabat yang mendorong kenaikan biaya pinjaman setinggi 25 basis poin dalam waktu dekat demi meredam gejolak pasar.
"Dalam beberapa minggu ke depan, kenaikan suku bunga mungkin diperlukan untuk meyakinkan pasar dan masyarakat bahwa bank sentral benar-benar menangani ancaman inflasi dengan serius," kata Greene.
Greene menggarisbawahi adanya perluasan kenaikan harga barang dan jasa yang tecermin melalui survei Purchasing Managers' Index sektor domestik.
"Risiko mengambil tindakan, sekalipun inflasi ternyata tidak terlalu persisten, lebih kecil dibandingkan risiko jika gagal mengambil tindakan," kata Greene.
Menanggapi situasi di Inggris, ekonom senior dari bank Jepang MUFG, Henry Cook, menilai penundaan yang terlalu lama oleh bank sentral dapat memicu risiko makro yang lebih besar bagi pasar Eropa.
>>> Manchester City Siapkan Langkah Rekrut Kiper Pierce Charles
"Kami memang melihat adanya risiko bahwa mereka pada akhirnya terlalu banyak menunda. Bermain untuk mengulur waktu berpotensi bukan menjadi strategi terbaik dalam situasi seperti ini," kata Cook.