Lansia akan merasa lebih dihargai ketika diberikan kesempatan menyampaikan pendapat, berpartisipasi dalam kegiatan sosial, atau ikut mengambil keputusan.
>>> Bawang Putih Masuk Agenda Swasembada Pangan Nasional, Target 3-4 Tahun
Perasaan dihargai tersebut berperan penting mendongkrak rasa percaya diri dan menekan risiko kesepian.
Keterlibatan sosial membuat lansia tetap relevan di tengah perkembangan zaman, sementara pengalaman hidup mereka menjadi sumber pengetahuan bagi generasi muda.
Bangsa Perlu Mengubah Cara Pandang Terhadap Produktivitas
Cara sebuah bangsa memandang proses penuaan menjadi aspek ketiga yang tidak kalah penting. "Bangsa jadi ekosistem yang lebih besar.
Salah satu yang bikin sebal orang tua itu ada istilah pensiun, lalu produktif dan tidak produktif," ucap Nani.
Pelabelan produktif dan tidak produktif sering memicu lansia merasa tersisih.
Mereka kerap dianggap tidak lagi berkontribusi berarti saat tidak bekerja di sektor formal, padahal nilai seseorang tidak semata-mata ditentukan oleh aktivitas ekonomi.
Banyak lansia tetap aktif mendampingi keluarga, menjadi relawan, membagikan pengalaman, hingga berkontribusi dalam kegiatan sosial.
"Ketika kita dikategorikan sebagai usia tidak produktif lagi, maka di situlah kondisi mental jadi berubah.
Bisa muncul anggapan 'Oh saya udah tua, tidak relevan lagi, tidak berguna'," kata Nani.
Masyarakat diajak menggeser cara pandang terhadap proses penuaan. Proses menua sepatutnya disiapkan sejak dini melalui investasi sosial, emosional, dan relasional.
>>> Xpeng G6 Ramaikan Pasar SUV Listrik Indonesia dengan Desain Futuristik
"Menua adalah sesuatu yang akan terjadi pada siapapun, tapi yang terpenting adalah bagaimana berinvestasi untuk menua dengan bahagia sejak muda," tutupnya.