⌂ Beranda News Generasi Sandwich dan Frugal Living: Menghadapi Ketidakpastian Ekonomi

Generasi Sandwich dan Frugal Living: Menghadapi Ketidakpastian Ekonomi

Generasi Sandwich dan Frugal Living: Menghadapi Ketidakpastian Ekonomi
Ilustrasi generasi sandwich yang menanggung beban finansial orang tua dan anak di tengah kondisi ekonomi yang sulit.
A A Ukuran Teks16px

Di tengah meningkatnya biaya hidup dan ketidakpastian ekonomi global, dua istilah semakin akrab di kalangan masyarakat Indonesia, yaitu 'generasi sandwich' dan 'frugal living'.

Generasi sandwich merujuk pada kelompok usia produktif yang menanggung kebutuhan ekonomi dua generasi sekaligus: orang tua lanjut usia dan anak-anak yang masih bergantung.

>>> Wakil Ketua MPR Minta Anggaran Energi Baru Terbarukan 2027 Ditambah

Sementara itu, frugal living adalah gaya hidup hemat yang menekankan pengeluaran sadar, terencana, dan sesuai kebutuhan.

Tekanan Ekonomi pada Generasi Sandwich

Indonesia telah memasuki era penuaan penduduk, dengan proporsi lansia yang terus meningkat.

Hal ini berarti semakin banyak penduduk usia produktif yang harus menanggung biaya hidup lansia, sekaligus membiayai pendidikan dan kesehatan anak-anak.

Dalam struktur keluarga Indonesia yang kental dengan nilai kolektivisme, membantu orang tua yang pensiun tanpa dana memadai menjadi kewajiban moral.

Di sisi lain, biaya membesarkan anak, pendidikan, dan kesehatan terus meningkat.

Situasi ini membuat banyak generasi sandwich, meski terlihat mapan secara nominal, memiliki kondisi keuangan yang rentan.

Mereka kesulitan membangun aset atau berinvestasi untuk masa depan, berisiko mengulang siklus ketergantungan finansial.

Tekanan juga dirasakan kelompok kelas menengah, yang ruang konsumsinya semakin sempit akibat kenaikan harga pangan, pendidikan, cicilan, dan transportasi.

Generasi sandwich menjadi kelompok yang paling rentan karena tidak cukup miskin untuk bantuan sosial, namun tidak cukup kaya untuk bantalan keuangan kuat.

Frugal Living sebagai Respons Rasional

Menghadapi stagnasi pendapatan dan peningkatan pengeluaran, frugal living menjadi strategi bertahan hidup yang relevan.

Frugal living bukan sekadar pelit, melainkan memastikan setiap rupiah memberikan manfaat maksimal dengan membedakan kebutuhan dan keinginan.

>>> Cisco Luncurkan Cloud Control untuk Kolaborasi Manusia dan Agen AI

Perilaku ini terlihat pada kelas menengah Indonesia yang mulai melakukan downtrading atau beralih ke produk lebih murah tanpa mengurangi fungsi utama.

Ada beberapa alasan mengapa frugal living relevan bagi generasi sandwich: keterbatasan pendapatan yang sulit ditingkatkan cepat, kebutuhan membangun dana darurat, dan upaya memutus siklus ketergantungan antar-generasi.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru