Rasulullah SAW bersabda, puasa yang paling utama setelah Ramadan adalah puasa di bulan Allah, yaitu Muharam.
Puasa Asyura memiliki keutamaan menghapus dosa setahun yang telah lalu. Ini menjadi kesempatan bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah.
Umat Islam disarankan menjalankan kedua puasa tersebut secara beriringan sebagai pembeda dari tradisi keagamaan umat lain.
Puasa Tasua dan Asyura juga menjadi sarana memperkuat ketakwaan serta meningkatkan kepedulian sosial dan spiritual dalam menyambut tahun baru Hijriah.
Pandangan serupa disampaikan oleh Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta, Yayuli. Ia menekankan pentingnya meningkatkan intensitas ibadah tanpa ritual perayaan tahun baru yang berlebihan.
Yayuli menjelaskan bahwa Rasulullah menganjurkan puasa pada tanggal 9 dan 10 Muharam.
Puasa Asyura berstatus sunah muakkad karena konsisten dilakukan Nabi Muhammad SAW, yang memiliki keutamaan menghapus dosa satu tahun.
Puasa Tasua ditambahkan sebagai pelengkap karena merupakan rencana ibadah Nabi yang belum sempat terealisasikan.
Rasulullah berkeinginan melaksanakan puasa Tasua sebagai pembeda dari ritual puasa kaum Yahudi pada tanggal 10 Muharam.
Mengenai hukum pelaksanaannya, Mazhab Syafi'i memperbolehkan umat Islam menunaikan puasa Asyura secara mandiri tanpa diikuti puasa Tasua.
Ketentuan fikih dalam kitab Al-Umm karya Imam Syafi'i menegaskan ibadah tersebut tetap sah dan berpahala.
Bulan Muharam termasuk dalam empat asyhurul hurum atau bulan suci.
>>> Piala Dunia 2026 Pecahkan Rekor Kartu Merah Tercepat
Sesuai hadis riwayat At-Thabrani, pahala amalan puasa satu hari di bulan Muharam dilipatgandakan oleh Allah SWT setara dengan tiga puluh hari puasa.