Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan reformasi besar-besaran pada struktur pasar modal domestik. Langkah ini bertujuan menghentikan praktik manipulasi perdagangan atau aksi goreng saham.
Pembenahan ini mencakup pembaruan infrastruktur transaksi, peninjauan ulang regulasi, dan peningkatan intensitas pengawasan pasar.
>>> Demokrat Tanggapi Kritik PKB: PDIP Pilih di Luar Pemerintahan
Pengetatan dipicu oleh catatan penyedia indeks global, MSCI, yang menyoroti volatilitas tidak wajar akibat intervensi perdagangan.
Pengawasan Lebih Efektif ke Depan
Pjs.
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menjelaskan bahwa pembenahan sistemik ini dilakukan agar penindakan terhadap pola transaksi mencurigakan berjalan optimal.
"Ke depannya diharapkan pengawasan akan menjadi lebih efektif, sehingga catatan terkait manipulasi dan orchestrated trading akan lebih baik penanganannya," ujarnya.
Otoritas bursa tetap berupaya menyeimbangkan penegakan integritas pasar dengan pemeliharaan volume transaksi harian. Hal ini agar pasar modal Indonesia tidak kehilangan daya tarik bagi investor domestik maupun mancanegara.
>>> Timnas Swedia Puncaki Grup F Piala Dunia 2026 Usai Bantai Tunisia 5-1
"Tetapi di sisi lain, likuiditas pasar tetap kita jaga dengan baik," tambah Jeffrey.
Laporan MSCI 2026 Global Market Accessibility Review mengungkapkan bahwa pasar keuangan Indonesia masih terhambat oleh minimnya keterbukaan informasi.
Pola perdagangan terkoordinasi dinilai mengganggu pembentukan harga saham yang rasional.
"Masalah terkait kelayakan investasi masih ada akibat keterbatasan transparansi dalam struktur kepemilikan saham serta perilaku perdagangan terkoordinasi yang mengganggu pembentukan harga yang wajar.
>>> Cek Fakta: Klaim Arti Kata Hanta pada Hantavirus Ternyata Keliru
Informasi pasar saham yang terperinci tidak selalu diungkapkan dalam bahasa Inggris," tulis laporan MSCI tersebut.