Menurut para ilmuwan, gelombang panas kali ini diperparah oleh fenomena heat dome, yakni area bertekanan tinggi yang bertindak seperti 'tutup' raksasa di atmosfer.
Udara panas terperangkap di bawahnya sehingga suhu terus meningkat selama beberapa hari.
Namun, keberadaan heat dome saja tidak cukup menjelaskan tingginya suhu tahun ini.
Studi para peneliti menunjukkan perubahan iklim akibat pembakaran bahan bakar fosil membuat gelombang panas seperti ini jauh lebih mungkin terjadi.
Bahkan suhu malam yang sangat panas kini sekitar 100 kali lebih mungkin terjadi dibanding sekitar dua dekade lalu.
Secara keseluruhan, para ilmuwan menyebut gelombang panas Juni 2026 hampir mustahil terjadi tanpa pengaruh pemanasan global.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan dampak panas ekstrem kini telah berubah menjadi krisis kesehatan. "Saat ini sekitar 150 juta orang hidup dalam kondisi panas ekstrem.
Ratusan orang meninggal dunia, sekolah-sekolah ditutup, dan jaringan listrik mulai kewalahan," kata Tedros seperti dikutip dari France 24.
Ia mengingatkan bahwa gelombang panas yang dahulu dianggap sebagai kejadian langka kini semakin sering terjadi.
"Didorong oleh perubahan iklim dan pemanasan global, gelombang panas yang dulu hanya terjadi sekali dalam satu generasi kini hampir terjadi setiap tahun.
Kita sebenarnya sudah diperingatkan," ujarnya.
Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperkirakan pusat gelombang panas kini bergeser ke Eropa Tengah dan kawasan Balkan.
Meski suhu mulai turun di sebagian wilayah Eropa Barat, dampaknya terhadap kesehatan diperkirakan masih akan berlangsung hingga beberapa hari ke depan.
Para ilmuwan menegaskan bahwa Eropa merupakan salah satu kawasan yang mengalami pemanasan paling cepat di dunia.
>>> Debut di Piala Dunia 2026, Simeone Tepati 'Janji' 3 Tahun Silam
Kejadian seperti ini diperkirakan tidak lagi menjadi fenomena yang terjadi sekali dalam beberapa dekade, melainkan dapat berulang dengan intensitas yang semakin besar jika emisi gas rumah kaca tidak ditekan.