Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) telah menyelesaikan lelang pita frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz.
Langkah ini dinilai sebagai momentum penting untuk meningkatkan kualitas layanan internet seluler di Indonesia.
>>> Potret Sejarah Inggris Vs Argentina di Piala Dunia
Direktur Eksekutif Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI) Marwan O. Baasir mengatakan tambahan spektrum tersebut akan memperbesar kapasitas jaringan operator.
Dengan demikian, kualitas layanan internet dapat meningkat secara signifikan.
"Insya Allah pasti. Frekuensi 700 MHz bisa menjawab kebutuhan 4G Advanced maupun 5G.
Di sejumlah negara juga sudah digunakan untuk layanan 5G. Sementara pita 2,6 GHz akan menjadi fondasi untuk memperkuat implementasi 5G," kata Marwan di Jakarta.
Selama ini, pengembangan layanan 5G di Indonesia masih belum optimal karena keterbatasan spektrum yang dimiliki operator.
Spektrum yang ada masih digunakan secara berbagi (sharing) dengan layanan 4G, sehingga mayoritas implementasi 5G masih menggunakan arsitektur non-standalone (NSA).
"Dengan spektrum sekarang memang masih sharing. Makanya operator menggunakan non-standalone.
Kalau standalone, harus menggunakan spektrum yang benar-benar khusus untuk 5G," ucapnya.
Marwan menjelaskan, tambahan spektrum dari hasil lelang mencapai sekitar 260 MHz, terdiri dari pita 700 MHz dengan lebar pita 70 MHz dan pita 2,6 GHz sebesar 190 MHz.
Dengan tambahan tersebut, total spektrum komersial Indonesia diperkirakan meningkat dari sekitar 452 MHz menjadi sekitar 712 MHz atau naik 58%.
>>> Inggris Vs Argentina di Semifinal Piala Dunia 2026, Paredes: Mimpi Jadi Nyata
Ia menilai peningkatan kapasitas spektrum tersebut akan menjadi lompatan besar bagi industri telekomunikasi nasional. Hal ini sekaligus meningkatkan kualitas layanan internet seluler.
"Komersialisasi spektrum kita meningkat cukup besar. Harapan saya ini akan meningkatkan kecepatan internet mobile dan mengangkat posisi Indonesia di kawasan regional," ungkap Marwan.
