Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah mengungkap penyebab fenomena kematian massal ikan yang terjadi di Danau Batur, Bali, pada akhir Juli lalu.
Hasil pemantauan lapangan menunjukkan bahwa peristiwa tersebut diduga berkaitan dengan fenomena pencampuran kolom air danau atau 'lake mixing'.
>>> Kim Sang-sik Akui Lini Tengah Jadi Titik Lemah Vietnam
Proses alami ini terjadi ketika massa air dari lapisan dasar danau naik dan bercampur dengan air di permukaan.
Tim peneliti menemukan kadar oksigen terlarut di permukaan danau turun mendekati 0 mg/L saat kejadian.
Tercium pula bau menyengat hidrogen sulfida (H₂S), yang mengindikasikan air dari lapisan dasar terangkat ke permukaan.
Peneliti biogeokimia BRIN, Sulung Nomosatryo, menjelaskan bahwa lapisan dasar danau secara alami memiliki kandungan oksigen yang lebih rendah akibat dekomposisi bahan organik.
Lapisan tersebut juga dapat mengakumulasi senyawa sulfida.
Ketika terjadi pencampuran massa air, air dari lapisan bawah yang miskin oksigen naik ke permukaan dan membawa sulfida.
Dalam kondisi tertentu, sulfida dapat berubah menjadi hidrogen sulfida yang sangat beracun bagi ikan.
Sulung menyatakan keberadaan bau H₂S menunjukkan air dari lapisan bawah kemungkinan terangkat ke permukaan.
Namun, diperlukan analisis laboratorium dan pengkajian seluruh parameter kualitas air untuk memahami penyebab utuh kematian ikan.
Karakteristik Danau Batur
Peneliti hidrodinamika danau BRIN, Arianto Budi Santoso, menambahkan bahwa Danau Batur adalah danau vulkanik yang dekat dengan Gunung Batur.
>>> Carrick Puas dengan Performa Manchester United Lawan Atletico Madrid
Karakteristik ini menyebabkan kandungan senyawa sulfur di danau tersebut relatif lebih tinggi dibandingkan danau lainnya.
Dalam kondisi anoksik (tanpa oksigen), senyawa sulfat di dasar danau akan berubah menjadi sulfida.
Proses pencampuran air menyebabkan sulfida naik ke lapisan beroksigen dan teroksidasi kembali menjadi sulfat, yang mengonsumsi cadangan oksigen terlarut.
