⌂ Beranda News Harga Pangan Dunia Melonjak Sejak Awal 2026, Ini Pemicunya

Harga Pangan Dunia Melonjak Sejak Awal 2026, Ini Pemicunya

Harga Pangan Dunia Melonjak Sejak Awal 2026, Ini Pemicunya
Grafik kenaikan indeks harga pangan global FAO 2026
A A Ukuran Teks16px

Komoditas jagung juga menguat karena adanya kenaikan permintaan impor di tengah pasokan yang kian ketat.

Konflik geopolitik ini mengganggu jalur pelayaran penting dan merembet ke biaya transportasi serta distribusi pangan.

Indeks harga serealia FAO pada Maret mencapai 110,4 poin atau naik 1,5 persen dari Februari dengan kenaikan merata di hampir semua kelompok kecuali beras.

Kekhawatiran kekeringan di Amerika Serikat dan kurangnya curah hujan di Australia mengerek harga gandum sebesar 4,3 persen.

Memasuki April, indeks serealia naik lagi 0,8 persen sebelum akhirnya melonjak 2,6 persen secara bulanan pada Mei 2026.

Angka tersebut menjadi level tertinggi komoditas serealia sejak pertengahan tahun 2024.

Sementara itu, komoditas minyak nabati memicu volatilitas besar sepanjang kuartal I dan awal kuartal II 2026.

Harga minyak nabati pada Mei sempat turun 4,6 persen dibandingkan April.

Akan tetapi, level harga tersebut masih 20 persen lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Koreksi dipicu oleh melemahnya harga minyak sawit dan kedelai setelah melesat tajam beberapa bulan sebelumnya.

FAO memproyeksikan adanya potensi penurunan produksi serealia dunia sekitar 2 persen untuk musim 2026/2027.

Ancaman penyusutan ini diprediksi menyasar pada berbagai jenis kelompok serealia utama.

Risiko ke depan kian dibayangi oleh potensi gangguan cuaca ekstrem dan pembengkakan biaya produksi akibat harga energi yang tinggi.

Konflik berkepanjangan berisiko memperluas tekanan pada harga pupuk, transportasi, serta logistik pangan.

Di sisi lain, pasar pangan dunia saat ini masih terselamatkan oleh cadangan dan pasokan dari musim sebelumnya.

>>> BPBD Gorontalo Cabut Peringatan Tsunami Usai Gempa M 7,7

Faktor stok yang memadai tersebut sejauh ini sukses menahan lonjakan harga yang lebih ekstrem pada komoditas serealia.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru