Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta para pelaku pasar untuk tetap rasional menyikapi seruan Sell Indonesia.
Hal ini menyusul merosotnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Selasa (9/6/2026).
>>> Pertamina dan SLB Jajaki Kerja Sama Teknologi Hulu Migas
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menegaskan fundamental ekonomi Indonesia saat ini sangat baik.
Ia mengimbau agar situasi pasar modal dijaga bersama tanpa menambah isu yang tidak bertanggung jawab.
"Jadi kita harus lebih rasional untuk segala ajakan-ajakan seperti itu.
Kita sayang sama Indonesia, kita cintai negara kita dengan melihat segala sesuatu dengan lebih jernih," ujar Kiki di Gedung Dhanapala Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (9/6/2026).
Ia mensinyalir ada pihak tertentu yang menyerukan aksi jual, namun justru melakukan tindakan sebaliknya di lapangan.
"Kalau ada ajakan-ajakan seperti itu jangan telan mentah-mentah, karena kadang-kadang orang bilang sell, tapi di belakang melakukan hal yang sebaliknya," jelasnya.
Berdasarkan data perdagangan Senin (8/6/2026), investor asing mencatat aksi jual bersih sebesar Rp 447,05 miliar.
>>> Dokter: Konsumsi Gula Berlebih Percepat Penuaan Kulit
Akumulasi aksi jual asing sepanjang 2026 mencapai Rp 61,81 triliun.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya menyatakan narasi Sell Indonesia belum mencerminkan potret ekonomi nasional. Ia menilai salah satu tulisan media internasional tidak sepenuhnya memahami dinamika ekonomi Indonesia.
Kementerian Keuangan mempercepat publikasi laporan APBN KiTA untuk memberi kepastian bahwa kondisi fiskal dan ekonomi domestik tetap kuat.
"Makanya kemarin sengaja saya percepat APBN KiTA, untuk melihatkan ke pasar bahwa kondisi fiskal kita baik, ekonominya juga cukup kuat," kata Purbaya di Kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Sabtu (6/6/2026).
Seruan Sell Indonesia menjadi tajuk pemberitaan Bloomberg akibat anjloknya IHSG 36 persen sepanjang 2026. IHSG menjadi pasar saham berkinerja terburuk di antara 90 indeks global.
Nilai tukar rupiah melemah lebih dari 7 persen dan investor asing menarik dana miliaran dolar AS dari pasar obligasi.
Kondisi ini merupakan pergeseran besar karena Indonesia biasanya menjadi tujuan utama investasi portofolio pasar negara berkembang.
>>> OJK Pantau Dampak Kenaikan BI Rate pada Sektor Perbankan
"Perdagangan paling populer di Asia saat ini adalah 'jual Indonesia'," kata George Boubouras, Kepala Riset di K2 Asset Management, hedge fund yang mengelola dana sekitar US$ 4,3 miliar.