⌂ Beranda News Rupiah Sentuh Rp 18.200 per Dolar, Ini Analisis Lengkap CORE Indonesia

Rupiah Sentuh Rp 18.200 per Dolar, Ini Analisis Lengkap CORE Indonesia

Rupiah Sentuh Rp 18.200 per Dolar, Ini Analisis Lengkap CORE Indonesia
Grafik nilai tukar rupiah terhadap dolar AS
A A Ukuran Teks16px

Fitch menyebut revisi outlook mencerminkan meningkatnya ketidakpastian kebijakan dan kekhawatiran terhadap konsistensi bauran kebijakan ekonomi Indonesia.

CORE menilai sinyal negatif dari tiga lembaga pemeringkat global dalam waktu berdekatan menjadi perhatian serius.

"Ketika kepercayaan fiskal goyah, investor asing menjual asetnya di Indonesia dan mengonversi rupiah ke dolar. Permintaan dolar meningkat dan rupiah tertekan," tulis CORE.

Data menunjukkan investor asing mencatatkan net sell Rp 23,79 triliun di pasar SBN dan Rp 49,03 triliun di pasar saham sepanjang Januari-April 2026.

Ketidakpastian kebijakan juga memperberat pelemahan. CORE menyoroti pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (PT DSI) untuk sistem ekspor satu pintu yang dianggap tergesa-gesa.

Saat pengumuman, rupiah sempat menyentuh Rp 17.730 per dolar AS.

>>> Analisis Sports Illustrated: Grup I Jadi Grup Neraka Piala Dunia 2026

Perubahan aturan devisa hasil ekspor (DHE) yang telah direvisi beberapa kali dalam kurun kurang dari tiga tahun juga membentuk persepsi regulasi yang tidak stabil.

CORE menilai dominasi eksekutif dalam pengambilan keputusan ekonomi turut memperkuat persepsi meningkatnya ketidakpastian kebijakan.

Masalah Struktural Neraca Pembayaran

Di luar faktor jangka pendek, rupiah menghadapi persoalan struktural. Dalam satu dekade terakhir, transaksi berjalan Indonesia hampir selalu defisit.

Pada kuartal I 2026, defisit mencapai 4 miliar dolar AS.

Defisit terutama berasal dari sektor jasa dan pendapatan primer.

Indonesia harus membayar dividen dan keuntungan investasi kepada investor asing dalam jumlah besar, menciptakan tekanan permanen terhadap rupiah.

CORE menyebut kondisi ini sebagai paradoks pembangunan. Investasi asing masuk, tetapi keuntungannya kembali keluar dalam bentuk dividen dan pendapatan investasi.

Sepanjang periode 1986-2024, nilai tukar rupiah melemah sekitar 1.136 persen terhadap dolar AS, jauh lebih dalam dibanding ringgit Malaysia, peso Filipina, maupun baht Thailand.

Perbandingan dengan Krisis 1998

Pelemahan rupiah hingga menembus rekor terendah memunculkan pertanyaan apakah Indonesia menuju situasi seperti krisis moneter 1997-1998.

Menurut CORE, pelemahan saat ini memang melampaui level nominal masa krisis, tetapi karakter pergerakannya berbeda.

Pada 1997-1998, nilai tukar jatuh sangat cepat dengan volatilitas ekstrem. Sebaliknya, pelemahan sejak 2023 hingga 2026 berlangsung lebih bertahap dan relatif terkendali.

CORE menyebut institusi makroekonomi Indonesia saat ini jauh lebih kuat.

Namun, pelemahan tetap perlu diwaspadai karena berkaitan dengan tata kelola kebijakan, kredibilitas fiskal, serta ketergantungan pada modal asing dan impor.

Kesimpulan: Bukan Sekadar Dolar AS

CORE menyimpulkan pelemahan rupiah tidak disebabkan satu faktor tunggal.

Tekanan datang dari lonjakan harga energi global, keluarnya modal asing, ketidakpastian kebijakan domestik, hingga masalah struktural neraca pembayaran.

Stabilitas rupiah tidak hanya bergantung pada kebijakan BI melalui kenaikan suku bunga atau intervensi pasar.

Pemulihan kepercayaan terhadap kebijakan ekonomi dan perbaikan fundamental menjadi kunci mengurangi kerentanan rupiah terhadap gejolak global.

>>> Analisis Al Jazeera Unggulkan Perancis Raih Juara Piala Dunia 2026

Dalam jangka panjang, tantangan terbesar adalah memperkuat struktur neraca pembayaran, mengurangi ketergantungan pada komoditas primer, memperdalam pasar keuangan domestik, serta menekan defisit pendapatan primer.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru