Net Sell Asing Masih Terjadi
Meski IHSG melonjak lebih dari 7 persen, investor asing masih melakukan aksi jual bersih senilai Rp 2,58 triliun.
Tekanan jual terkonsentrasi pada saham berkapitalisasi besar.
Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menjadi yang terbesar dengan net sell Rp 477 miliar.
Disusul PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Rp 468 miliar, dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Rp 268 miliar.
Aksi jual juga terjadi pada PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) sebesar Rp 261 miliar, serta PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) Rp 141 miliar.
Di sisi lain, investor asing melakukan akumulasi pada beberapa saham.
PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) mencatat net buy Rp 26 miliar, diikuti PT Timah Tbk (TINS) Rp 11 miliar, PT Petrosea Tbk (PTRO) Rp 10 miliar, dan PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) Rp 8 miliar.
Faris menilai dampak kenaikan BI Rate sebesar 75 basis poin sepanjang 2026 belum sepenuhnya tecermin di pasar saham.
Transmisi kebijakan suku bunga ke perekonomian riil tidak instan, melainkan membutuhkan waktu tiga hingga enam bulan.
“Kalau dibilang sudah sepenuhnya priced in, menurut saya belum ya. Dampak riil dari total kenaikan 75 basis poin sepanjang tahun ini biasanya tidak instan,” lanjutnya.
Meski demikian, pasar saham memberikan respons positif terhadap langkah BI. Investor menilai kebijakan tersebut sebagai tindakan proaktif menjaga stabilitas makroekonomi di tengah tekanan rupiah dan ketidakpastian global.
>>> Timnas U19 Indonesia Hadapi Australia di Semifinal Piala AFF U19 2026
“Meski transmisinya butuh waktu, respons awal dari pasar saat ini sudah mencerminkan reaksi yang positif karena mereka mengapresiasi langkah BI yang proaktif dalam menjaga stabilitas makroekonomi kita,” imbuh Faris.