Sekarang menjadi US$11.000," kata Rashedul Hasan, Kepala Kamar Mesin Kapal Banglar Joyjatra.
Pemasok lokal diduga memanfaatkan situasi konflik untuk melipatgandakan keuntungan.
"Juga terasa bahwa beberapa pemasok makanan dan air mencoba mengambil keuntungan dari situasi ini," kata seorang pelaut Korea.
Intensitas serangan udara tinggi di sekitar pelabuhan membuat pekerja kehilangan waktu istirahat.
"Kadang-kadang rudal melintas di atas satu kapal, dan kadang-kadang puing-puing jatuh ke kapal berikutnya," kata Shafiqul Islam.
Rentetan ledakan sepanjang malam memaksa kru kapal terus terjaga.
"Setiap kali serangan berlangsung sepanjang malam, tidak ada dari kami yang bisa tidur," kata Rashedul Hasan.
Kondisi ini telah merenggut nyawa belasan pekerja maritim internasional di sekitar Selat Hormuz.
"Kami telah menyaksikan kengerian dan kehancuran dengan mata kepala sendiri," ujar Rashedul Hasan.
Militer setempat melakukan patroli intensif menggunakan pengeras suara dan pencahayaan kuat untuk mengantisipasi pergerakan kapal ilegal.
"Kapal-kapal ini menggunakan lampu terang. Kami juga mendengar pengumuman melalui pengeras suara.
Kapten mengatakan orang Iran melakukan ini untuk mencegah siapa pun melintas," kata Sajid Masood, seorang koki di kapal tanker.
Tekanan kerja tinggi dan pemotongan fasilitas kompensasi membuat sejumlah pekerja mempertimbangkan keluar dari industri ini.
"Krisis ini menunjukkan betapa berbahayanya pekerjaan ini," kata Kamil, seorang pelaut Pakistan.
Ketidakpastian geopolitik diprediksi memengaruhi minat pekerja baru untuk mengisi posisi operasional kapal dagang.
"Banyak pelaut mungkin akan memandang profesi ini secara berbeda," kata Kamil.
>>> Ketegangan Timur Tengah Pangkas Kunjungan Turis dan Paksa Hotel Dubai Banting Harga
Analisis teknikal dari Agrodana Futures memperkirakan harga minyak mentah masih sensitif terhadap perkembangan diplomasi antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.