"Sepeda ini adalah rumah kedua saya."
>>> Militer Iran Serang Pangkalan AS di Kawasan Teluk sebagai Balasan
Rindu Keluarga di Tengah Konflik
Arezoo sudah terpisah dari kampung halamannya selama tujuh bulan. "Keluarga, terutama pelukan ibu," katanya saat ditanya apa yang paling dirindukan.
Beban psikologisnya meningkat drastis ketika saluran komunikasi terputus saat Iran mendapat gempuran militer dari Amerika Serikat dan Israel.
Ia sempat ingin pulang, tetapi memilih bertahan demi misi perdamaian.
"Itu salah satu momen yang sulit karena saya harus menjalani semuanya sendirian. Sekarang saya bersyukur komunikasi sudah kembali lancar," kata dia.
Menginspirasi Perempuan Dunia
Keputusan Arezoo menjelajah dunia seorang diri sempat menuai keraguan, terutama karena ia tumbuh dalam keluarga yang memegang teguh nilai tradisional.
Proses negosiasi dengan keluarga memakan waktu 10 tahun, dimulai dari izin perjalanan pendek satu hingga dua hari.
"Keberanian yang saya miliki hari ini adalah hasil proses selama bertahun-tahun. Izin yang saya dapatkan dari orang tua ini sudah saya rintis selama 10 tahun," kata dia.
Ketahanan fisik Arezoo terbentuk dari hobi mendaki gunung dan bersepeda di Iran. Ia mengundurkan diri dari pekerjaan dan menjual mobil pribadi untuk mendanai perjalanan.
Ia juga aktif mencari donasi di setiap kota yang disinggahi.
"Pesan saya kepada perempuan dan anak-anak perempuan di seluruh dunia, khususnya di Indonesia, adalah jangan takut untuk bermimpi dan mengejar impian kalian," kata Arezoo.
"Mulailah dari perjalanan satu atau dua hari. Tidak perlu langsung jauh.
Seiring waktu, jarak dan kemampuan akan bertambah."
Setelah menyelesaikan rute di Indonesia, Arezoo berencana melanjutkan ke India. Ia telah mempelajari negara tersebut melalui riset mandiri dan diskusi dengan komunitas pesepeda internasional.
>>> Dua Wakil Indonesia Amankan Tiket Babak Kedua Australian Open 2026
"Saya percaya pada tujuan saya. Kepercayaan itu yang memberi saya kekuatan untuk terus melanjutkan perjalanan," pungkasnya.