Di lantai bursa, saham perbankan bermodal besar diproyeksikan menjadi incaran utama pemodal asing saat pasar modal domestik memasuki fase penguatan.
Kapitalisasi pasar yang masif dan likuiditas harian yang tinggi menempatkan sektor finansial sebagai motor penggerak indeks komposit.
Selain bank konvensional, bank digital juga dinilai memiliki keunggulan kompetitif. Struktur bisnis bank digital memungkinkan mereka menetapkan bunga kredit yang lebih tinggi dibandingkan bank konvensional raksasa.
"Dalam konteks kenaikan suku bunga ini, bank digital memiliki keunggulan komparatif yang menarik.
Karena secara natural, struktur bisnis bank digital memungkinkan mereka untuk menetapkan bunga kredit yang jauh lebih tinggi," lanjut Faris.
Kemampuan penetapan harga yang agresif menjadi bekal bagi bank digital untuk memacu pendapatan bunga secara signifikan.
"Pricing power yang tinggi ini membuat mereka punya ruang lebih lebar untuk menggenjot pendapatan bunga di era suku bunga tinggi," ucap dia.
Terkait prospek intermediasi, laju penyaluran kredit nasional diproyeksikan berjalan lebih ketat dan selektif menjelang akhir tahun.
"Untuk prospek hingga akhir 2026, pertumbuhan kredit secara nasional tampaknya akan bergerak lebih moderat.
Angkanya kemungkinan besar akan cenderung berada di bawah pencapaian bulan April yang sempat menyentuh level 9,98 persen secara tahunan," tuturnya.
Suku bunga yang lebih tinggi secara psikologis akan membuat pelaku usaha dan individu lebih selektif dalam mengajukan pinjaman baru.
>>> Mendag Budi Santoso Dorong Gitar UMKM Klaten Tembus Pasar Ekspor
Meskipun laju kredit melambat, situasi pasar saat ini dipandang sebagai momentum akumulasi yang tepat bagi investor mengingat valuasi saham perbankan telah mengalami koreksi harga yang signifikan.