⌂ Beranda News Rupiah Melemah ke Rp 17.988/USD Akibat Defisit APBN dan Geopolitik

Rupiah Melemah ke Rp 17.988/USD Akibat Defisit APBN dan Geopolitik

Rupiah Melemah ke Rp 17.988/USD Akibat Defisit APBN dan Geopolitik
Grafik pergerakan rupiah dan IHSG yang menunjukkan pelemahan dan penurunan tajam
A A Ukuran Teks16px

Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup melemah 44,50 poin atau 0,25 persen ke level Rp 17.988 per dollar Amerika Serikat (AS) pada Kamis (11/6/2026).

Pelemahan kurs mata uang Garuda ini dipicu oleh proyeksi pelebaran defisit anggaran domestik serta meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah.

>>> KKP Targetkan 1.369 Kampung Nelayan Merah Putih Selesai Akhir 2026

Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) memperkirakan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 akan membengkak hingga batas tertinggi 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Proyeksi ini melampaui target awal pemerintah sebesar 2,7 persen dan lebih tinggi dari realisasi defisit APBN 2025 yang berada di angka 2,9 persen.

Pelebaran defisit tersebut didorong oleh tingginya harga komoditas energi global, di mana kenaikan harga minyak berpotensi menambah beban subsidi BBM hingga 0,6 persen dari PDB.

Pemerintah memberikan indikasi kuat untuk tetap menjaga batas aman fiskal melalui bauran kebijakan senilai 0,3 persen terhadap PDB.

Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa langkah penyelamatan fiskal dapat ditempuh melalui kebijakan selektif pada anggaran negara maupun instrumen perpajakan tertentu.

Langkah tersebut berupa pemangkasan belanja pada sektor-sektor tertentu maupun penerapan pajak durian runtuh (windfall tax) terhadap eksportir komoditas unggulan Indonesia yang memperoleh keuntungan besar dari kenaikan harga komoditas global.

>>> Timnas U19 Indonesia Hadapi Australia di Semifinal Piala AFF U19 2026

Di sisi lain, OECD memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 melambat ke angka 4,7 persen akibat beban biaya energi dan ketidakpastian kebijakan yang menekan konsumsi domestik.

Pertumbuhan ekonomi diperkirakan bangkit ke level 5 persen pada 2027, sementara inflasi nasional diproyeksi merangkak naik ke posisi 3,4 persen karena dampak transmisi harga energi dunia.

Tekanan terhadap rupiah juga diperparah oleh penutupan Selat Hormuz oleh Komando Militer Gabungan Tertinggi Iran.

Hal ini melarang seluruh kapal tanker dan komersial melintas demi menjaga harga minyak tetap tinggi.

Walau demikian, militer AS mengklaim kapal komersial tetap berlayar aman dan membantah laporan media Iran mengenai adanya serangan rudal terhadap kapal perang mereka.

Kondisi geopolitik yang memanas ini berbarengan dengan rilis data inflasi AS bulan Mei yang melonjak 4,2 persen, tertinggi dalam tiga tahun terakhir.

>>> Persijap Jepara Pertahankan Mario Lemos untuk Musim 2026/27

Angka inflasi yang kuat ini memperkokoh proyeksi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, bahkan membuka peluang kenaikan suku bunga lanjutan sebelum akhir tahun.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru