Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan ancaman baru terhadap Iran. Ia menyatakan akan meluncurkan serangan militer jika Teheran gagal mencapai kesepakatan nuklir akhir dengan AS.
Pernyataan itu disampaikan Trump setelah pengumuman kesepakatan damai antara kedua negara. Mediator Pakistan mengumumkan kesepakatan tersebut, yang kemudian dibenarkan Trump.
>>> Reaktor Fusi Nuklir China Tembus Batas Fisika Greenwald, Buka Jalan Energi Bersih
Dalam wawancara dengan New York Times, Trump menjelaskan bahwa kesepakatan yang dicapai akan memastikan Selat Hormuz bebas pungutan tol secara permanen.
Namun, ia juga memberikan peringatan terkait proses negosiasi.
Menurut penasihat Trump, proses kesepakatan nuklir diperkirakan dimulai pada Jumat (19/6) di Swiss. Jika Iran tidak mencapai kesepakatan, Trump mengancam akan memulai kembali serangan militer.
Opsi lain yang disiapkan adalah menjadikan AS sebagai penjaga Timur Tengah dengan imbalan 20 persen dari pendapatan kawasan tersebut.
Sebelumnya, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengumumkan pada Senin (15/6) bahwa AS dan Iran telah menyepakati perdamaian.
Kesepakatan ini diraih setelah negosiasi intensif.
Sharif menyebut Washington dan Teheran sepakat menghentikan pertempuran secara permanen di seluruh front, termasuk Lebanon. Trump kemudian mengonfirmasi kesepakatan damai tersebut.
>>> Prediksi AI Piala Dunia 2026: Spanyol Unggul, Tapi Ada Celah 82%
"Kesepakatan dengan Republik Islam Iran kini telah selesai. Selamat kepada semua pihak!"
kata Trump dalam pernyataan tertulis.
Ketentuan rinci kesepakatan damai belum diungkapkan ke publik. Peringatan Trump diduga merujuk pada komitmen Iran yang belum diterima resmi.
Nota kesepahaman antara AS dan Iran mengatur penangguhan pungutan tol di Selat Hormuz selama 60 hari. Setelah itu, kedua negara akan mengadakan dialog regional.
Trump membandingkan kerangka kerja ini dengan kesepakatan nuklir Iran 2015 era Obama. Ia menegaskan formula baru akan memastikan Iran tidak mengembangkan senjata nuklir.
Pejabat Iran mempertahankan posisi mereka selama negosiasi tiga bulan terakhir. Mereka menegaskan tidak akan melepas hak memperkaya uranium untuk tujuan sipil.
Laporan NYT mengungkapkan AS masih merundingkan durasi penangguhan pengayaan uranium, apakah 20 tahun.
>>> Prancis Usung Misi Balas Dendam di Piala Dunia 2026
Trump mengisyaratkan peluang menyetujui 15 tahun, namun tetap membatasi pengayaan pada level rendah yang tidak dapat digunakan militer.