⌂ Beranda News BGN Rancang Ulang Penerima Program Makan Bergizi Gratis

BGN Rancang Ulang Penerima Program Makan Bergizi Gratis

BGN Rancang Ulang Penerima Program Makan Bergizi Gratis
Ilustrasi program Makan Bergizi Gratis
A A Ukuran Teks16px

Charles menekankan bahwa indikator kesuksesan kebijakan ini diukur dari peningkatan status kesehatan, bukan kuantitas distribusi wadah makanan.

"Parameter keberhasilan MBG seharusnya bukan berapa banyak ompreng yang dibagikan, melainkan seberapa besar perbaikan status gizi yang berhasil dicapai.

Fokus program harus bergeser dari kuantitas penerima manfaat menuju kualitas dampak yang dihasilkan," sambung Charles.

Pandangan serupa mengenai batasan jenjang pendidikan penerima bantuan juga disampaikan oleh perwakilan legislatif lainnya.

Anggota Komisi IX DPR RI Fraksi Partai NasDem, Irma Suryani Chaniago, menyatakan dukungannya terhadap pembatasan program.

>>> Erling Haaland Cetak Dua Gol, Norwegia Ungguli Irak di Babak Pertama

"Sedari awal saya usul cukup anak TK sampai SMP saja seperti di Jepang, untuk eliminasi stunting, yang diberikan hanya untuk ibu hamil keluarga miskin, anak balita dan anak dengan gizi buruk," kata Irma.

Kendati demikian, Irma memberikan catatan mengenai dispensasi khusus bagi pelajar di wilayah dengan tingkat ekonomi rendah.

Kebijakan proteksi sosial tersebut tetap dianggap memiliki nilai manfaat bagi ketahanan fisik siswa.

"Untuk anak SMA di wilayah miskin infonya masih diberikan, setidaknya dalam rangka mengurangi kemiskinan.

Jika dikaitkan dengan peningkatan gizi agar dapat meningkatkan imunitas tubuh tentu bagus, tetapi tidak untuk peningkatan IQ," lanjut Irma.

Di sisi lain, perbaikan skema distribusi ini dikonfirmasi langsung oleh pihak eksekutif.

Wakil Kepala Badan Gizi Nasional Agustina Arumsari menjelaskan bahwa institusinya kini aktif membangun kerja sama lintas sektoral bersama Kementerian Kesehatan.

"Salah satu langkah perbaikan yang kami lakukan adalah refocusing penerima manfaat. Kami sudah berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan, kami sudah berkoordinasi dengan beberapa kementerian yang lain," kata Agustina.

"Yang intinya adalah memang secara teknis menurut Kementerian Kesehatan intervensi kesehatan gizi sebaiknya dilakukan misalnya teknisnya ya, itu adalah dari usia kandungan sampai dengan 1.000 hari pertama usia kelahiran itu volume otak bisa maksimal, lalu sampai dengan 2 tahun itu nanti ada intervensi gizi, lalu sampai dengan usia selanjutnya," sambung Agustina.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru