I was outspoken about it back then, a year ago, and that was one of the reasons that there began to be a falling out between me and President Trump and the White House," kata Greene.
Ia menambahkan bahwa Charlie Kirk dan Tucker Carlson juga menentang perang tersebut. "We said it was wrong.
We were like, wait a minute, this is what we said we would not do. We campaigned against being involved in foreign wars, regime change in foreign countries."
Greene menegaskan bahwa perang melawan Iran tidak terprovokasi.
"I think it was an unprovoked war and the US and Israel started that war, and it appears that Israel doesn’t want it to end," ujarnya.
Ia berharap ada kesepakatan damai dan ingin militer AS meninggalkan kawasan tersebut. Namun, ia menilai Israel tetap berkomitmen untuk membombardir Lebanon dan Gaza.
Greene juga mengungkapkan bahwa mantan Direktur Intelijen Nasional Tulsi Gabbard serta badan pengawas nuklir telah memberi pengarahan kepada Kongres.
Mereka menyatakan Iran sama sekali tidak dekat dengan kepemilikan senjata nuklir.
"I think he did it on behalf of Israel. He said he did.
He said publicly," kata Greene. Ia meragukan alasan Trump yang menyebut perang untuk membebaskan rakyat Iran atau perubahan rezim.
Di sisi lain, Presiden Trump tetap pada posisinya dan menolak kekhawatiran inflasi. Ia mengklaim ekonomi AS tengah mengalami pertumbuhan lapangan kerja yang kuat.
>>> Kurs Rupiah Melemah ke Rp 17.746 per Dolar AS pada 17 Juni 2026
Pemerintah AS memproyeksikan inflasi dan harga minyak mentah akan turun signifikan setelah konflik di Timur Tengah selesai.