Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung mendesak Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk memfasilitasi rekonsiliasi dengan Korea Utara.
Permintaan itu disampaikan dalam pertemuan di sela-sela KTT G7 di Prancis pada Rabu (17/6/2026).
>>> Bahlil Bentuk Tim Khusus Pengadaan Batu Bara untuk PLN
Desakan tersebut muncul menjelang rencana penandatanganan nota kesepahaman antara AS dan Iran untuk mengakhiri konflik pada Jumat (19/6).
Sinyal pengalihan fokus Washington ke Pyongyang menguat setelah Trump mengunggah foto pertemuannya dengan Kim Jong Un di Singapura tahun 2018 di media sosial.
Kantor kepresidenan Korea Selatan mengonfirmasi bahwa Trump sempat menanyakan kemajuan hubungan bilateral Seoul-Pyongyang dalam dialog di Prancis.
"Presiden Lee meminta agar ia (Trump) memimpin dalam mencapai resolusi damai untuk masalah Korea Utara, seperti halnya ia telah menyelesaikan konflik di Timur Tengah," kata pernyataan kantor kepresidenan Korsel.
>>> Messi Cetak Hattrick dan Samai Rekor Gol Piala Dunia
Menanggapi permintaan tersebut, Washington memberikan sinyal positif. "Presiden Trump menyatakan komitmennya untuk bekerja menuju resolusi masalah Korea Utara," tambah pernyataan itu.
Langkah diplomasi Lee mencerminkan kebijakan luar negerinya yang moderat, berbeda dengan sikap konfrontatif mantan Presiden Yoon Suk Yeol.
Namun, Pyongyang justru merespons negatif dengan menetapkan Seoul sebagai musuh utama dan menegaskan statusnya sebagai kekuatan nuklir permanen yang "tidak dapat diubah".
Pengamat politik internasional menilai pertemuan lanjutan AS-Korea Utara sulit terwujud dalam waktu dekat.
>>> Ketua KPK Ungkap Makelar Kasus Manfaatkan Bocoran Orang Dalam
"Dari perspektif Korea Utara, praktis tidak ada alasan untuk bertemu dengan Amerika Serikat," kata Yang Moo-jin, mantan presiden Universitas Studi Korea Utara di Seoul.
