Israel memandang Hizbullah sebagai ancaman eksistensial karena kelompok tersebut memiliki ribuan rudal yang mampu menjangkau wilayah Israel.
Karena Hizbullah didukung Iran, maka setiap kompromi antara AS dan Iran dipandang berpotensi memperkuat musuh utama Israel.
Di sisi lain, Iran menganggap Hizbullah sebagai garis pertahanan terdepan menghadapi Israel.
Dukungan terhadap Lebanon selatan merupakan bagian dari strategi "forward defense" Iran, yaitu mempertahankan pengaruh regional dengan membangun jaringan kekuatan non-negara di Timur Tengah.
Akibatnya, konflik Israel-Hizbullah sering kali menjadi faktor pengganggu utama setiap negosiasi AS-Iran.
Bahkan Trump sendiri dikabarkan marah terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu karena serangan udara ke Beirut dianggap menghambat proses penandatanganan perdamaian.
Situasi ini memperlihatkan bahwa Timur Tengah tidak hanya dipengaruhi konflik antarnegara, tetapi juga konflik proksi.
Dalam model konflik proksi, negara-negara besar tidak selalu bertempur langsung, melainkan menggunakan kelompok sekutu untuk mempertahankan pengaruh geopolitik mereka.
Selain Hizbullah di Lebanon, Iran juga memiliki jaringan pengaruh di Suriah, Irak, Yaman, dan Teluk Persia. Kelompok-kelompok tersebut menjadi bagian dari strategi regional Iran untuk menghadapi tekanan Barat.
Sementara Israel memandang keberadaan jaringan itu sebagai ancaman terhadap keamanan nasionalnya.
Karena itulah kesepakatan damai AS-Iran belum otomatis berarti stabilitas penuh Timur Tengah. Konflik proksi tetap dapat berlangsung meski Washington dan Teheran menandatangani nota perdamaian.
Dalam perspektif geopolitik klasik, kawasan Timur Tengah memang selalu menjadi arena perebutan pengaruh global. AS ingin mempertahankan dominasi strategis dan akses energi.
Iran ingin menjadi kekuatan regional independen. Israel ingin menjaga superioritas keamanan.
Sementara Rusia dan China diam-diam mendukung stabilitas terbatas demi keamanan jalur energi internasional. China misalnya memiliki kepentingan besar terhadap stabilitas pasokan minyak dari Teluk Persia.
Rusia juga berkepentingan menjaga pengaruh geopolitiknya di Suriah dan kawasan Timur Tengah.
Oleh sebab itu, negara-negara besar cenderung mendukung "perang terbatas" yang masih dapat dikendalikan daripada kekacauan total yang menghancurkan pasar global.
Di titik inilah Timur Tengah menjadi laboratorium baru politik internasional modern—sebuah kawasan di mana perang, diplomasi, ekonomi energi, dan konflik proksi bercampur menjadi satu realitas geopolitik yang sangat kompleks.